Mitra Bisnis [Cerita Seks]

Bookmark and Share
Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan
melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di
dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari
kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai
apa-apa.

Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya
harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan
mitra bisinis saya.

Saya sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, saya harus hadir
dan seharusnya suami pun yang menjabat sebagai Direktur utama harus
hadir, tapi karena suami baru pulang dari dinas di luar negeri selama
sebulan untuk mengadakan negosiasi dengan mitra bisinisnya yang di luar
negeri dan masih terlalu capai katanya dan memang kontrak akan ditanda
tangani oleh saya saja.

Ternyata di sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang
masih di tempat tidur sambil memainkan remote control tv untuk melihat
berita hari ini.

Seperti biasanya, didepan meja rias saya mulai berias.

Saya melepas handuk yang melilit di badan saya dan mulai memberi body
lotion ke seluruh badan. Mulai dari kaki dan terus ke paha dan sampai
selangkangan, terus ke atas.

Dibagian dada sedikit agak lama memberikan lotion nya terutama dibagian
payudara saya yang berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua
tangan saya. Saya sedikit merasa suatu kenikmatan dan memang terlihat
dengan mulai mengeras nya puting saya. Mungkin memang sedang masa subur
dan lagi sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena di
tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya suami sedang
memperhatikan saya berias. Suami memberi oleh-oleh untuk saya tadi malam
begitu sampai. BH buatan salah satu product dari inggris yang lucu dan
sexy.

BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki
cup atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra, sudah jelas puting
saya tidak tertutup oleh BH nya tapi tetap menjaga bentuk payudara.

Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki
saya sampai ke pangkal paha, dan terus dilanjutkan dengan melilitkan
garter ke pinggang saya dan tidak lupa menjepit stocking saya ke tali
garter. Karena suami sudah bangun saya memanggilnya, "mas tolong dong ke
sini ikatkan tali BH ini".

Suami yang tidur dengan mengenakan T shirt dan celana dalamnya saja
bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk membantu saya.

"mas bagus ini BH nya, enak dipakai sepertinya...sexy lagi". Sambil
tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap
menghadap kaca saya menanyakannya "pinter juga milihnya mas, gimana pas
tidak kelihatannya".

Dari belakang saya, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian
depan BH yg dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan
nakalnya tangannya menyentuh dan menekan payudara saya yang tidak
tertutup oleh BH ini.

Saya sedikit mendesah, "ah....mas nakal nih tangannya....", sambil tetap
meremas kedua payudara saya dia menjawab "kenapa memangnya tangan
saya...", dia mulai menjepit ke dua puting saya dengan jari telunjuk dan
jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. "Enak ya
rasanya...sudah lama kan tidak saya pijit".

"Ah mas menggoda saja orang mau kerja". Kedua puting dengan cepatnya
mengeras, terasa sakit bercampur nikmat. "Ah....ah....enak sekali
rasanya", saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia
menahannya, tangan kanan saya mulai melilit kan ke tengkuk nya dari
depan dan menngelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya
tetap meremas payudara saya. Oh begitu nikmatnya, saya betul-betul
terangsang. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak menuju bawah
dengan perlahan dan sampai ke bawah puser. Saya belum mengenakan celana
dalam.

Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak ini.

"Aduh kamu sudah banjir sepertinya.....", memang saya merasa bagian
bawah saya sudah mulai lembab, dan dia terus mengelus dengan lembutnya.

Mendadak saya merintih agak keras "ah...ah...!!" ketika dia memainkan
bibir bawah saya., tidak kuat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit
membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan.
Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.

Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah.

Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan
menggerak gerakannya di dalam vagina saya "ah.... ah... aduh mas...ah...
saya tidak tahan.....enak sekali...". Saya sudah tidak sabar lagi,
tangan kiri saya menuju belakang dan memegang pinggulnya dan menariknya
supaya lebih mendekat dengan saya, dan segera menyelinap ke dalam celana
dalamnya, saya mulai memegang penisnya yg sudah membesar dan keras itu,
dan dengan berirama saya gerakkan. "ah...ah..." dia mulai merintih
kecil.

Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk masuk ke saya,
"gimana....enak...rasanya" katanya. "Ah...mas enak sekali....terus
gerakkan mas... jangan berhenti...satu lagi mas...ah...!!" saya minta
jari manisnya juga.

Saya mulai menarik celana dalamya ke bawah, dan dengan bantuan tangan
kirinya celana nya pun jatuh ke bawah.

Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke
pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itu menempel di
bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan
dari dalam saya dan kembali meremas remas payudara kanan saya sambil
memainkan puting saya. Semetara itu tangan kirinya memegang pinggul saya
untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama.

Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali ujung penisnya
menyentuh mulut vagina saya, seakan mau memasukinya, dia sengaja tidak
memasukkannya dulu.

Membuat saya gregetan untuk bertahan, saya sudah terangsang sekali.

"Ayo mas...saya sudah tidak tahan lagi.....ah..ah..!!" saya memintanya.

"Mau apa kamu....bilang dong..." dengan nada menggoda.

Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina,
"ini....mau ini...cepat...ah..ah.. jangan buat penasaran....ah..!!" dan
lebih membungkuk lagi saya, posisi saya sudah siap untuk dimasukinya.

Pelahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya, sebuah benda
yang hangat mulai masuk ke dalam saya, "ah...ah... ayo terus mas....saya
mau semuanya..ah".

Dia hanya memasukkan setengah saja, membuat saya tambah penasaran,
pinggulnya mulai bergerak ke depan dan belakang dengan berirama.
"ah...terus..terus mas... saya mau semuanya...ah.. sampai mentok mas..
ah".

"ah..emm..enak tidak, mau semuanya ya..", dia bertanya, belum sampai
saya jawab dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan
saya pun merintih dan merasakan sesuatu yang enak sekali. Pinggul nya
terus bergerak berirama, dan mulai menambah cepat irama nya, tentu saja
membuat saya tenggelam ke kenikmatan.

Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya
sambil memutarkan tubuh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang
saya dia pegang dengan kedua tangannya dan mengangkat badan saya dan dia
dudukan di meja rias, kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia
kemudian mulai merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya,
"ah...ah..." saya pun merintih lebih keras karena nikmatnya. Dan dia
mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas
payudara saya dan juga memainkan puting saya dengan menjepit dengan jari
telunjuk dan tengahnya.

Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka
mulut saya sedikit, dan lidah dia mulai memasuki mulut saya dan saya
sambut dengan lidah saya.

Kedua lidah saling bercengkrama dan membuat lebih nikmat.

Irama gerakan pinggulnya semangkin cepat, dan saya tahu dia mulai
mendekati klimaks.

"Tunggu mas, saya mau sama-sama mas...ah..!!", saya ingin mencapai
klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit
penis nya.

"Ah...mas.. ayo mas.. saya sudah mau keluar
mas...ah..sama-sama...mas..!!".

Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang
terasa begitu panas dan kencang dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa
detik kemudian mencapai klimaks.

Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan , dan saya memeluk
kepalanya dan saya ciumi kuping kirinya sambil berbisik "ah...nikmat
sekali mas...sudah lama kita tidak begini", dan pinggulnya sudah
berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia
mengecup bibir saya dengan mesranya. "Ah...", dia merintih sedikit
karena penisnya yg masih didalam saya jepit.

Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam
posisi duduk di meja rias, saya merasakan cairan kental putih keluar
dari dalam saya membasahi meja rias.

"Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti", katanya dengan
penuh arti.

Di luar mobil sudah menunggu saya, saya keluar dari rumah dan pamit.

Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah
sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedua
puting saya dari balik gaun merah ini, BH saya hanya menyangga buah dada
saya dan puting saya tidak tertutup oleh BH sehingga sepintas seperti
tidak memakainya.

Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk, sebelum pintu di
tutup saya menarik bagian rok saya yg masih sedikit menempel di bagian
pintu karena kancing bagian rok saya yg ada di depan sengaja saya buka
sampai pertengahan paha, supaya lebih mudah bergerak dan sedikit
terlihat sexy dengan belahan di depan.

Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti
sudah biasa dia terus menutup pintu.

"Jon tolong mampir ke hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, dan baru kita
ke kantor".

Di lobby hotel tamu saya sudah menunggu, dia bersama wakilnya.

"Wah maaf pak Robert agak telat sedikit, tadi jalanan sedikit macet".

Saya berbohong, padahal jalan tidak macet, tentu saya tidak bisa bilang
bahwa saya telat karena menikmati sex di pagi hari.

Bapak Robert ini sepertinya masih muda dan tampan, badannya tegap dan
tinggi. Masih muda sudah menjadi president suatu perusahaan yang lumayan
besar.

Di mobil saya duduk di sebelah kanan, kemudian pak Robert di tengah dan
wakilnya di kanan. Sambil sedikit memiringkan badan masing-masing kami
berbincang-bincang tentang kota Jakarta. Sambil berbincang-bincang,
sesekali-kali dia mencuri pemandangan dengan melirik ke bagian dada saya
yang belahan bajunya sedikit rendah ini. Saya tahu itu, tapi saya
berpura-pura seperti tidak sadar dan juga saya tahu bahwa yang dia lihat
adalah bagian yang menonjol dari balik baju saya di sekitar buah dada
saya.

"Pak Robert sudah umur berapa putranya?" saya sengaja menanyakanya untuk
memastikan sudah berkeluarga atau belum. Dia tersenyum dan "Saya belum
berkeluarga bu", sambil tersenyum. "Kalau begitu bisa lebih santai dulu
dong di Jakarta setelah kerjaan selesai" dengan nada memancing saya
bertanya.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di kantor. Mobil berhenti dan
supir membukakan pintu sebelah kiri. Wakil pak Robert turun dahulu dan
kemudian dia, sambil bergeser saya juga menunggu untuk keluar, dan
ketika saya memutarkan badan untuk mengambil tas saya yang ada di
belakang kursi, belahan rok saya terbuka sampai pangkal belahan, tapi
saya tidak sempat membenarkannya dan langsung ke luar. Di depan pintu
pak Robert sudah menunggu saya untuk turun, dan dia pasti telah melihat
pangkal paha saya dan bahkan mungkin telah lihat celana dalam saya yang
hitam dan agak transparant itu.

Pintu lift di loby terbuka dan saya persilahkan Tamu saya masuk dahulu
dan kemudian saya. Kantor saya ada di tingkat 30, di dalam lift tidak
terlalu penuh, tapi di tingkat 3 banyak yang masuk sehingga kami mundur
ke belakang. Karena penuhnya, saya terdorong sampai menyentuh pak
Robert, "maaf pak Robert" saya minta maaf kepadanya.

Dalam lift saya merasakan tangan pak Robert yang menempel ke pantat
saya, merasa tidak sopan, dia mengeser tangannya agar tidak menyentuh,
tapi rupanya justru membuat posisinya semakin tidak enak. Bagian
depannya langsung menempel ke bagian belakang saya. Saya merasa ada
sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang saya, penisnya mengeras
rupanya. Belum sampai lebih jauh merasakannya lift terbuka dan kami
harus keluar. Ruang rapat sudah siap dan saya persilahkan masuk, dan
beberapa menit kemudian rapat dimulai. Ada dua hal kontrak yang kami
bicarakan dan pada awal rencana kami akan menanda tangani kedua kontrak
kerja, tapi setelah satu jam rapat berjalan ada satu hal yang harus
dikonfirmasikan dan pak Robert minta ditunda sehari, akhirnya kami
menandatangani satu kontrak kerja saja.

Untuk menjamu tamu, saya membuat appoitment untuk diner malam ini di
hotel pak Robert jam 20 malam. Pak Robert dengan diantar oleh mobil saya
kembali ke hotel.

Sore jam 16 saya bersiap-siap untuk pulang kerumah karena nanti malam
ada diner dengan pak Robert. Ketika sampai di rumah ternyata ada pesan
dari suami bahwa dia harus keluar kota dan baru kembali besok pagi.

Saya langsung menuju meja rias dan membuka baju untuk mandi. Setelah
buka baju, saya duduk dahulu di kursi meja rias sambil membuka BH saya,
dan sedikit istirahat dulu.

Saya merasakan kelembaban di celana dalam saya, dan merabanya dari atas
celana, ternyata basah, naluri sex saya sedang tinggi. Dari selangkangan
kaki, celana dalam saya geser sehingga tangan saya dapat menyentuh bibir
bawah yang sudah basah ini, dengan halus saya mengelus-ngelusnya sambil
membayangkan tadi pagi, tapi tiba-tiba imajinasi saya berubah seakan
akan pak Robert yang muda dan ganteng itu sedang mencium dan menjilat
vagina saya. Cairan yang hangat dan licin semangkin membasahi, dengan
tidak sadar jari telunjuk saya sudah masuk ke dalam vagina dan terus
saya gerakkan keluar masuk dari vagina saya, "ah..ah..a.h.." saya mulai
merintih dengan nikmatnya. Seperti kurang puas dengan jari, saya membuka
laci meja rias dan mengeluarkan mainan saya.

Mainan ini berbentuk penis ukuran orang eropa dan bisa bergerak-gerak
dengan memakai baterai. Mula-mula ujungnya saya tempel di ujung mulut
vagina saya, "ah..ah!!", denyut jantung mulai cepat dan saya mulai
memasukkan nya perlahan-lahan sambil berimajinasi yang masuk itu penis
pak Robert. Saya masukkan sampai habis, bukan main rasanya, seperti
benar-benar melakukan sex, mainan ini bergerak terus di dalam badan
saya. Saya mulai menggerakkan mainan perlahan dengan men keluar masukan
ke vagina dengan berirama, seperti orang laki-laki sedang memasukan
punyanya ke vagina wanita.

"ah...ah!!...ah ah ah..", irama gerakkan mulai cepat dan cepat, saya pun
mulai tidak sadarkan diri, sementara tangan kanan menggerakkan mainan,
tangan kiri saya mulai meremas payudara kanan saya dan sambil memainkan
puting yg sudah dari tadi mengeras.

Selama lima menit, terus saya mainkan mainan ini dan irama tangan pun
semangkin cepat, dan saya sudah mendekati kelimax. "ah..ah...
keluar!!..ah..ah", tanpa saya atur pinggul saya bergerak menyentak
dan mainan yg didalam saya jepit....

Cairan kental bening keluar banyak dari celah vagina yg masih dimasuki
oleh mainan ini.

Kepala dan tangan, saya rebahkan di meja rias, sementara mainan penis
ini masih bergerak di dalam vagina saya. Kurang lebih tiga menit
kemudian saya mulai menarik maian yang masih bergerak dalam vagina saya,
mainan sudah jelas basah dan licin oleh cairan saya.

Mainan saya bersihkan dengan tisue dan saya simpan kembali di laci, dan
saya baru melepas celana dalam yg sudah basah ini dan melepas gartar,
kedua stocking saya, dan menuju kamar mandi.

Saya pilih gaun biru gelap untuk diner malam ini. Setelah memakai minyak
wangi ke seluruh badan, saya mulai mengenakan stocking hitam dari kaki
kiri dan terus saya tarik sampai setengah paha dan diteruskan dengan
yang kanan. Saya lebih senang stocking model seperti ini dari pada panty
socking, lebih praktis apabila ingin ke kamar kecil. Gartarpun saya
pilih
yang hitam, dan saya jepit tali gartar ke ujung stocking yang ada di
pertengahan paha. Saya pilih celana dalam hitam yang berbentuk sangat
minim yang hanya pas-pasan menutupi bagian depannya, sedangkan bagian
belakang hampir seperti tidak memakai celana dalam, hanya berupa garis
yang menutupi belahan bagian belakang, sehingga dari luar baju tidak
akan terlihat garis celana dalam. Gaun malam saya bagian bawahnya
panjang sampai ke mata kaki dengan dua belahan di samping sampai dua
puluh centimeter dari atas lutut. Bagian punggung terbuka, dan bagian
depan gaun dari dada terus ke atas dan bersimpul di kuduk kepala, tentu
tidak berlengan dan belahan dada nya sampai setinggi bawah payudara,
gaun hanya pas menutupi bagian payudara saja.

Gaun seperti ini tidak bisa memakai BH yg umumnya, biasanya hanya berupa
cup saja.

Tapi saya kurang enak memakai BH yg hanya cup saja. Malam ini payudara
saya langsung di tutup oleh gaun saja, tidak memakai BH.

Setelah merapih kan gaun dengan melihat dari kaca setinggi badan
kemudian saya memilih sepatu untuk malam ini. Saya pilih warna hitam
bludru dan dengan hak yang tinggi.

Supaya tidak kelihatan sepi bagian atasnya, saya pakai anting berbentuk
bulat seperti gelang yang tipis dan bross bentuk daun di dada kiri.
Lipstik saya pilih warna merah ross dan di tambah dengan lips gloss agar
lebih kelihatan mengkilat dan tidak kering.

Jam sudah menunjukkan pukul 19:00, saya harus berangkat sekarang.

Malam ini saya bawa mobil sendiri, supir sudah saya suruh pulang karena
besok pagi dia harus jemput suami pulang.

Mobil sudah di siapkan dari dalam garasi, mobil ini hadiah dari suami yg
bisa di hitung oleh jari di Jakarta ini. Mobil sport warna merah buatan
Italy, jarang saya pakai kalau siang karena menyolok.

Jalanan tidak terlalu padat, dan sekitar setengah jam sudah sampai di
hotel.

Dari lobi hotel saya menelpon ke kamar pak Robert, "pak Robert saya
tunggu di lobi ya".

Pak Robert minta waktu sebentar untuk turun, kira-kira sepuluh menit
kemudian dia turun dan menemui saya. "Wah maaf bu menunggu agak lama",
sambil memandang saya dengan mata seorang laki-laki muda yang penuh
arti.

"Maaf pak Robert, bapak tidak bisa hadir malam ini karena dia ada urusan
penting ke luar kota, salam saja darinya semoga bisnis kita bisa jalan
dengan lancar".

"Oh tidak apa, tapi kasihan juga ya ibu sering di tinggal suami, apa
tidak kesepian?".

Saya balas dengan senyuman. Kami pilih restoran jepang Teppanyaki.
Dengan kursi yang mengelilingi meja penggorengan yang lebar, kami duduk
di bagian tengah, dan memang hanya kami berdua di situ
karena sudah di reserve. Tidak lama koki yg akan meladeni kita datang
dan kami memilih menu nya. Sementara kami menunggu makanan sampai jadi
dan melihat atraksi si koki yang sangat khas ini, kami berbincang
bincang, dari cerita ringan sampai mulai cerita soal bisnis. Tidak lama
kemudian masakan siap dan kita mulai makan sambil meneruskan
perbincangan kami. "Wah saya kurang mahir memakai sumpit", dan memang
pak Robert kelihatannya kurang mahir untuk mengambil makanannya. "Cara
memegangnya begini pak, jadinya tidak jatuh dan tidak capai tangannya",
sambil membetulkan jarinya memegang sumpit. Sepertinya agak lumayan
sekarang tapi dia senang rupanya sekarang, tapi di bagian akhir dia
berusaha mau mengambil udang yang sudah matang itu, dan berkali-kali
jatuh karena licin. Karena kasihan, saya bantu ambilkan dengan sumpit
saya dan suapkan ke mulutnya, mukanya sedikit merah karena malu
sepertinya, saya tersenyum.

Setelah selesai makan, pak Robert saya ajak ke pub yg ada di hotel ini,
"bagaimana kalau kita pindah tempat ke pub di atas untuk
berbincang-bincang".

"Boleh bu", dia menurut saja. Hari ini sepertinya agak ramai, dan banyak
tamu orang barat, sehingga kami tidak dapat meja, terpaksa kami duduk di
bar nya.

"Ibu mau minum apa?", sambil menunjukan menu ke saya. "Terserah pak
Robert deh, kan anda lebih tahu yg enak", dan akhirnya dia pesan
cocktail dengan campuran dasar gin.

Agak keras, tapi enak rasanya. Sementara kami berbincang bincang,
suasana semangkin ramai, musik berirama cepat terus mengalir dan yg
turun untuk berdansa di dance floor semakin ramai, begitu asiknya
berbincang-bincang saya tidak ingat sudah berapa gelas saya tambah
minum, yang jelas lumayan banyak, soalnya mulai terasa alkohol naik ke
kepala. Mendadak musik berhenti dan disusul dengan alunan musik yg slow,
yang berdansa pun sedikit berkurang, pembicaraan kami pun terputus
sejenak.

"Pak Robert mau turun?", sebelum dia sempat menjawab, saya sudah tarik
tangannya.

Awalnya kami berdansa dengan sedikit mengambil jarak, tangan kanan saya
memegang tangan kirinya, dan tangan kiri saya melilitkan ke pinggang
dia, begitu juga dia.

Sambil iringan musik yg slow terus mengumandang, kami meneruskan
pembicaraan.

Ketika kami mulai berhenti berbicara, saya mencoba mendekatkan badan ke
dia, dan rupanya dia menyesuaikan diri juga. Dengan perlahan tangan
kanan saya lepaskan dari tangannya begitu juga tangan kiri saya lepas
dari pinggangnya dan melingkarkan kedua tangan saya ke belakang
pinggangnya, dan dia pun mengikutinya, tapi dia melingkarkan tangannya
agak ke atas, sehingga terasa sentuhan tangannya yang hangat itu ke
bagian punggung saya yang terbuka itu. Suasana semakin romantis, dan
kami makin merapat.

Saya merasakan denyut jantungnya yang semakin cepat, saya pun sama,
apalagi payudara saya yang tanpa BH itu menempel dengan rapatnya ke
dadanya, puting saya terasa mengeras yang hanya ditutupi sehelai kain
sutra yang tipis, dia pun pasti merasakannya. Dia pun bereaksi, terutama
ketika saya menekankan bagian bawah saya ke dia, penisnya mengeras dan
terasa agak besar miliknya. Kepala saya rebahkan ke dadanya, dan kini
sementara tangan kanannya tetap diam pada posisi semula, di punggung
bawah sekitar pinggang, tangan kirinya mulai naik perlahan lahan ke atas
dan berhenti di pertengahan punggung, terus bergeser kekanan hingga
ujung salah satu jarinya menjentuh bagian payudara saya yang sedikit
tidak tertutup dari celah samping belakang gaun saya.

Saya sedikit mendesah sambil menutup mata, tapi sepertinya dia tidak
dengar.

Sampai beberapa saat terus kami dalam posisi begini, dan tidak ada satu
kata pun yang keluar dari kami.

Musik berhenti, rupanya waktu istirahat untuk pemain band, dan kami pun
kembali ke bar tempat semula kami duduk. Waktu telah menunjukkan pukul
23:30.

Saya kembali berbicara mengenai bisinis, "Saya rasa tidak ada yang
kurang lagi dengan kontrak kerja kita yang kedua itu dan percayalah sama
saya", dengan nada meyakini nya.

"Coba kita lihat lagi sama-sama kontraknya, mungkin ada yg saya bisa
bantu lebih jelas", sekali lagi saya meyakinkannya. "Kalau begitu saya
ambil dulu surat kontraknya dan kita ketemu di loby", ucapnya. "Kalau
pak Robert tidak keberatan kita langsung saja ke kamar bapak dan kita
bahas di sana". "Boleh, kalau ibu mau silahkan".

Selama perjalanan kami tidak ada pembicaraan. Kamar dibuka dan kami
masuk, di dalam keadaannya rapih dan luas dan memang ini sweet room.

Dia menuju tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur sambil mengambil
tas kerjanya untuk mengambil dokument, sementara itu saya mengikutinya
dari belakang, dan menyalakan radio yang ada di dekat tempat tidurnya,
alunan musik yang lembut memenuhi ruangan, dan saya kemudian duduk di
sampingnya. Karena tempat tidur agak rendah posisinya, belahan samping
baju saya terbuka lebar, tapi saya biarkan saja.

Sambil membuka buka dokument, sebentar sebentar dia mencuri pemandangan
paha saya yang kelihatan dari belahan gaun. Saya berusaha menerangkan
satu persatu pasal-pasal yang dia anggap ragu, tapi sepertinya dia sudah
tidak terlalu konsentrasi lagi.

Tidak lama setelah saya menjelaskan semuanya tiba-tiba dia mengambil
ballpoint dari tas nya dan, "Saya tandatangan malam ini saja deh" sambil
tersenyum, "pokoknya saya percaya deh dengan perusahaan ibu", dan dia
pun menandatanganinya. Saya balas dengan berjabat tangan.

"Ibu mau minum apa?, wah hanya ada beer dan wisky saja tapi", dengan
nada kecewa.

"Kalau begitu saya minta scotch saja deh". Dia mengangguk dan menyiapkan
dua gelas dan mengeluarkan es dari kulkas. Sementara itu saya minta izin
mau ke kamar kecil.

Di dalam kamar kecil yang jadi satu dengan kamar mandi dan dengan kaca
yang besar saya merapihkan baju dan merapihkan rambut dan menambah
lipstik lagi yang mulai pudar.

Ketika selesai saya merasa tidak enak di celana dalam saya, dan ketika
saya mau membenarkan, bagian depannya saya pegang, ternyata basah.
Mungkin tadi waktu kami dansa dan saya terangsang sampai basah. Saya
bingung, bagaimana ya, dipakai terus tidak enak rasanya. Akhirnya saya
putuskan untuk melepaskannya dan saya masukkan ke dalam tas kecil saya.

Begitu saya keluar, pak Robert baru selesai membuatkan scotch untuk
berdua. Saya ambil gelas yang satu dari tangan dia dan terus berjalan
menuju jendela sambil melihat pemandangan diluar, sudah pukul 0:30,
jalanan sudah tidak banyak mobil, sementara itu dia duduk di ujung
tempat tidur sambil memandang saya dari belakang.

Saya baru sadar di depan saya ada lampu dinding yg agak terang, rupanya
dia lihat bayangan badan saya yang samar-samar kelihatan dari balik
gaun. Tapi saya diam saja tanpa reaksi terus memperhatikan jendela.

Tidak lama dia melepas jasnya dan berdiri menghampiri saya, tapi di
tengah tengah dia berhenti dan dengan suara agak ragu dia bertanya
kepada saya, "Mau kah ibu dansa lagi dengan saya di sini?".

"Emm, enak juga ya mungkin, lagunya juga enak dan tenang lagi ya,
boleh", saya membalasnya sambil mendekatinya. Minuman saya letakkan dan
langsung kami berdansa.

Kali ini kami langsung merapat dan saling merangkul pinggang pasangan
masing-masing.

Semakin lama suasana semangkin romantis, kepala saya sudah merebahkan ke
dadanya, dan bagian bawah mulai saya tekan ke dia, reaksi sudah
kelihatan, punyanya mengeras.

Puting saya sudah dahulu mengeras dan sangat kencang terasa. Seperti
ingin lebih merasakannya, kedua tangannya mulai turun ke bawah dan
memegang bagian pantat saya dan mendorongkannya ke badan dia sehingga
lebih terasa bentuk penisnya yang menekan bagian bawah saya. Tangannya
mulai mengelus ngelus pantat saya dari luar gaun saya sambil terkadang
meremasnya, saya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, berarti ada lampu
hijau dari saya, dia terus melakukannya berkali kali, dan saya tetap
diam sambil merasakan kenikmatan. Tidak lama kemudian kedua tangannya
bergeser ke bagian pangkal belahan gaun di pertengahan kedua paha saya,
dan dengan cepatnya kedua tangannya menyelinap ke dalam belahan gaun dan
mencoba memegang pantat saya dari dalam. Dia mulai meraba-raba pantat
saya seakan mencari sesuatu. Sepertinya dia mencari celana dalam saya,
padahal saya sudah tidak pakai lagi. Begitu dia sadar bahwa saya tidak
memakai celana dalam, wajahnya sedikit kaget, tapi hanya sejenak, bahkan
dia lebih berani lagi dengan menggerakkan tangan kanannya kebagian depan
saya, mengelus rambut bawah dan jari telunjuk dan tengahnya turun lebih
bawah lagi tepat di bagian belahan depan. Dengan kedua jarinya dia
membuka bibir bawah dan menjepit kacang saya.

Dia tahu saya sudah banjir. Ketika dia sekali lagi memainkan bagian
kacang, mendadak kepala saya bangkit dari dada nya dan menghadap mukanya
dengan jarak yg sangat dekat dan keluar suara rintihan saya sambil
menutupkan mata, "ah...".

Belum sempat saya menutup mulut, bibirnya langsung mendarat di bibir
saya dan menciumnya. Saya sengaja bukakan mulut saya agar dia lebih
dalam mengecup saya.

Lidahnya mulai memasuki bibir dan terus masuk ke mulut, Saya pun
bereaksi dengan mengulurkan lidah saya, lidah dan lidah saling menyaut
dan menghisapnya. Sampai beberapa saat kami saling bercumbu. Seakan
sudah diberi lampu hijau dari saya, dia bertambah agresif. Tangan
kanannya kembali melingkar ke belakang saya dan bersama tangan kirinya
kembali meremas remas pantat saya sambil terkadang mendorongnya ke depan
sehingga menekan bagian depannya, sementara kami tetap saling bercumbu.

Tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang pak Robert mulai saya lepas
dan tangan kiri saya gerakkan menuju depan celananya, dan meraba raba
seperti mencari sesuatu.

Sampai juga yang saya cari, resleting celananya saya tarik kebawah
perlahan lahan, kemudian tangan segera menyelinap ke dalam celananya,
dan terus menuju kedalam celana dalamnya. Penisnya sudah tegap dari
tadi, ukurannya cukup besar, segera saya genggam dan tangan saya gerakan
ke atas dan ke bawah perlahan lahan secara berirama.

Seperti ada reaksi dari tangan saya, dia sedikit menggigit bibir saya,
dia mulai terangsang rupanya, sementara tangan kiri saya tetap bergerak
berirama menggenggam penisnya.

Tidak lama kemudian dari ujung penisnya membasah, terasa dari jari
telunjuk saya yg mengusap ujung penisnya, terasa licin dan lengket.

Bibirnya mulai bergeser dari bibir saya menuju pipi dan terus ke daun
kuping saya.

Seperti mengemut permen, daun kuping sekitar anting kanan saya di
kulumnya dengan lembut dan suara nafasnya yang memuncak sangat jelas
terdengar di kuping saya. Tidak lama kemudian bibirnya pindah mengecup
leher sebelah samping di dekat kuduk saya dan terkadang mengecup sambil
menyedotnya. "ah..ah..", saya berdesah lagi. Ketika asyik mengecup leher
saya, dia melihat simpul baju ysng persis di kuduk saya, segera kedua
tangannya yang berada di pantat saya naik keatas menuju simpul itu dan
dia mulai membuka nya, dengan mudah simpul terlepas dan gaun bagian
depan dengan sendirinya lepas dan jatuh ke bawah. Buah dada yang
sebelumnya tertutup gaun, sekarang terlihat jelas keduanya dan puting
yang sudah mengeras dari tadi jelas terlihat.

Sedikit membungkuk, bibirnya menuju buah dada saya yang kanan dan
mengecup putingnya. "ah...ah...", saya benar benar terangsang. Tangan
kirinya kembali meremas pantat saya dan yang kanan menuju buah dada yang
kiri dan meremas dengan lembutnya.

Dia memaikan puting kiri dengan bibirnya, menghisap, mengecup, mengkulum
dan terkadang menggigit dengan ringan. Saya tidak bisa menjelaskan
nikmatnya dengan kata-kata.

Lidahnya pun terkadang keluar untuk menjilat puting dan sekitarnya yang
berwarna kemerah mudaan. Jari telunjuk dan tengah tangan kananya
memainkan puting kiri saya dengan menjepitnya. Seperti tidak ingin
dihalangi apa-apa, tangan kanannya yg berada di pantat saya segera
menarik ke bawah gaun saya yang sudah setengah terbuka itu, langsung
saja seluruhnya jatuh ke lantai. Tinggal gartar dan stocking yang
melekat pada badan saya.

Saya berlutut di depannya dan memberi kesempatan untuk membuka dasi dan
kemejanya.

Sementara itu saya mulai membukakan celananya, dengan segeranya jatuh ke
bawah, dan terus menurunkan celana dalamnya. Sekarang saya dapat melihat
jelas penisnya.

Saya mendekat dan dengan telapak kanan, kantong di bawah penis saya elus
dengan halus, "oh..oh..", dia terangsang rupanya. Ujung penis saya kecup
beberapa kali dan dengan ujung lidah saya jilat belahan yang ada pada
ujung penisnya.

Memang benar, cairannya mulai keluar sedikit dari ujung penis, terasa
asin.

Pinggulnya saya pegang dengan kedua tangannya agar lebih mantap
melakukan oral.

Kepala penis saya masukkan ke mulut dan berkali kali saya kulum dan di
hisap. Setiap kali saya hisap dia merintih. Sudah dari tadi dia
melepaskan kemejanya, dan sudah tidak ada satu kainpun yang melekat di
badannya.

Setelah puas memainkan kepala penisnya di dalam mulut, saya mulai lebih
memasukkan penisnya kedalam mulut perlahan lahan sampai ke pangkal
penis, masuk semua ke dalam mulut saya. Saya berhenti sejenak untuk
menikmatinya dan sementara itu kedua tangannya membelai belai rambut
saya. Saya mulai mengerakan mulut saya dengan mengeluarkan dan memasukan
penis nya dari mulut saya dan sekali sekali saya hisap ujungnya. Seakan
sedang makan es mambo dengan nikmatnya, terus saya gerakkan berirama.
"ah...ah..nikmat sekali...ah...", dia merintih. Sesekali-kali saya
melirik ke atas melihat wajahnya yang sudah hanyut di kenikmatan, saya
pun sudah terangsang dan benar benar lupa segalanya.

Sepertinya sudah lama dia tidak melakukan sex, tapi saya tahu dia
pengalaman.

Cukup lama saya melakukan oral, dan dia bertahan rupanya, tapi tidak
lama kemudian kakinya mulai gemetar, tidak kuat berdiri lagi rupanya.

Dia menarik saya untuk berdiri, dan setelah itu dia mendorong saya
sedikit ke belakang dan mendudukkan saya di tepi tempat tidur.

Sekarang dia gantian berlutut, saya sudah tahu apa yang akan dia
lakukan, tanpa diminta saya membuka kaki lebar-lebar sehingga
selangkangan terlihat jelas.

Kepalanya mulai mendekati selangkangan saya dan terus memendamkan
kepalanya tepat di daerah bibir bawah, lidahnya berusaha membuka belahan
saya dan terus menjilat kacang saya berkali kali, "ah..ah..ah!!" saya
merintih agak keras. Dengan bibirnya dia mengecup dan mengkulum kacang
saya beberapa saat. Dari situ dia mula menjilat mulut vagina dan
mengecupnya. dia menghisap cairan yang sudah dari tadi membasahi vagina
saya dan menelannya seakan meminum air, cairan dari dalam vagina semakin
banyak keluar, tanda sudah siap untuk tahap selanjutnya.

Lidahnya menjulur memasuki mulut vagina dan terus kedalam, "ah..ah!!.."
saya merintih tidak tahan dan meremas-remas kepalanya. Seakan ada suatu
mahluk hidup yang masuk ke dalam vagina dan bergerak-gerak. Dia memang
sedang memainkan lidahnya di dalam vagina saya.

Saya tidak kuat lagi bertahan untuk duduk, akhirnya saya merebahkan
diri, sementara itu dia masih terus memainkan vagina saya dengan
lidahnya, saya merintih berkali kali.

Akhirnya kepalanya menjauh dari selangkangan, berdiri dan naik ke tempat
tidur untuk bergerak lebih jauh lagi.

Kami sudah berada diatas tempat tidur, dia mulai menghampiri saya yang
sudah terlentang dari tadi.

Dia mengambil posisi di atas saya dan dengan halusnya mengecup dan kami
saling bercumbu, mengkulum lidah saya di dalam mulutnya, saling bertukar
air liur seakan menikmati suatu masakan. Bibirnya bergerak keleher dan
terus mengecup, saya merintih tidak henti hentinya dan dia menikmati
rintihan saya. Bibirnya terus mengecup kebawah sampai ke pangkal belahan
buah dada saya, dan kedua tangannya terus meremas dan memainkan buah
dada saya, sesekali menjilat puting.

Sementara sedang menciumi kedua buah dada saya, salah satu tangannya
menyelinap ke bawah bantal dan seperti mengambil sesuatu. Saya tidak
begitu sadar saking nikmatnya suasana. Bibirnya kembali bergeser ke atas
dan menciumi belakang daun kuping saya.

Sementara itu salah satu tangannya yang sedang menggenggam sesuatu dia
turunkan ke bawah, tidak lama kemudian saya ada kesempatan melihat ke
bawah badan saya.

Dia sedang menyobek plastik kecil, dia sedang membuka kondom, dan sedang
menyiapkan diri untuk dipakai. Tangannya yang memegang kondom saya
tangkap dengan tangan saya.

Bibir saya segera menuju daun kupingnya dan saya kecup beberapa kali dan
kemudian sambil sedikit merintih berbisik kedia, "tidak usah pakai
itu.....tidak apa-apa....masukkan saja....ah..ah..". Dia membatalkan
untuk memakai kondom.

Penisnya sudah berada di ujung vagina, dan mulai memasukkan kepala
penisnya, dan saya merintih keras. Kepala penis digerak-gerakan, membuat
saya kehilangan kontrol.

"masukan semua....ah...", saya meminta. "keluarkan di dalam saja",
sekali lagi saya meminta. Saya ingin dia menyelesaikan klimaxnya
didalam, ingin merasakan cairan panas kental itu masuk ke dalam tubuh.

Seperti sudah mendapat izin, dia terus menekan penisnya mendorong ke
dalam vagina.

Saya merasakan penisnya yang besar itu terus masuk lebih dalam. Dia
masukkan semua sepertinya, saya merasa ujung penisnya mencapai bagian
paling dalam vagina saya.

Tentu saya merintih rintih tanpa henti dan memeluk badannya untuk
bertahan.

Dia mulai menggerakkan pingulnya dan terasa penisnya bergerak keluar
masuk vagina saya. Suara seperti orang jalan di tempat becek terdengar,
bunyi dari gesekan penisnya dengan ujung vagina yang banjir.

Sambil bercumbu, gerakkannya semakin cepat. Pinggul saya pun ikut
menyesuaikan gerakkannya. Terus menerus saya merintih. Sesekali dia
menjilat dan menghisap puting saya yang berdiri menantang dan keras itu.

Mendadak dia memeluk badan saya agak kuat, dan kami merubah posisi
dengan memutar badan kami. Dia terlentang dan saya berada diatas nya.
Seperti menunggang kuda, saya duduk di atasnya dan penisnya tetap berada
didalam saya. Sekarang saya yang mulai menggerakkan pinggul, dia
kelihatan menikmatinya, terlihat dari wajahnya. Sementara pinggul saya
bergerak semakin cepat. Saya pun merintih karena nikmatnya. Saya paling
senang posisi begini. Terasa penisnya masuk lebih dalam dan memang saya
merasakan ujung penisnya berada di bagian paling dalam vagina. Sesekali
saya jepit penisnya yang sedang berada di dalam.

Beberapa menit kemudian dia merintih agak keras, "ah!!..saya tidak
tahan...ah!".

Saya pun sudah mendekat klimax, "keluarkan di dalam...ah!!... cepat
sekarang!".

Cairan panas terasa keluar di dalam saya, dan saya pun sampai puncaknya.

Kami benar-benar menikmatinya sampai akhir.

Saya mulai merebahkan diri ke badannya, detak jantung kami terasa masih
kencang, dan penisnya masih di dalam saya.

Dia mencium bibir saya yang masih benafas dengan kencang, sayapun
menjawabnya dengan mengecup bibirnya.

Pukul empat pagi saya terbangun, saya masih bersama pak Robert di temapt
tidur tanpa sehelai baju. Dia hasih tidur dengan lelapnya, saya berdiri
dan menuju kamar mandi dan mandi. Saya juga membersihkan bagian dalam
saya, terasa air mani nya sedikit masih tersisa di dalam.

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment