bonus belajar bersama [Cerita Seks]

Bookmark and Share
Peristiwanya terjadi ketika saya masih duduk di SMA. Ketika itu, saya dan Sari (bukan nama aslinya) merupakan teman seperjalanan setiap kami berangkat ke sekolah, karena waktu itu kampung tempat tinggal kami dengan tempat sekolah kami jaraknya kurang lebih 4 km, dan belum terjangkau oleh kendaraan (mobil) disebabkan jalanannya berlubang-lubang dan jembatannya belum terpasang. Karenanya setiap berangkat ke sekolah, kami selalu jalan kaki pulang pergi bersama Sari, meskipun sekolah kami berbeda, tapi gedungnya cukup berdekatan.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya dan Sari selalu cepat bangun untuk bersiap-siap ke sekolah (rata-rata jam 5. 30 pagi) agar kami tidak terlambat. Suatu ketika kami janjian untuk lebih cepat berangkat ke sekolah, sebab kebetulan hari pasar ramai. Kami telah sepakat membeli buku, polpen dan buah-buahan di pasar, sehingga pagi itu kami lebih cepat bersiap-siap berangkat dari biasanya.

Kebetulan sekali kami bertemu di Sumur yang berada di tengah sawah, letaknya kurang lebih 1/2 km dari rumah penduduk. Pertemuan saya dengan Sari di sumur itu memang hampir setiap hari, tapi baru kali ini kami hanya berdua, di mana pada hari-hari sebelumnya selalu ramai dikunjungi oleh warga, sebab sumur tersebut termasuk bersih airnya, luas dan tidak pernah kering walau musim kemarau.

Mungkin inilah yang dimaksud orang bahwa pelanggaran atau kejahatan itu bisa terjadi secara tiba-tiba karena ada peluang. Inilah yang menimpa kami saat itu. Pada awalnya, sebagaimana pada pertemuan-pertemuan kami sebelumnya, kami bersikap biasa-biasa saja sebagaimana layaknya teman biasa. Karena pertemuan kami sudah dianggap biasa, maka tidak aneh jika si Sari langsung buka baju dekat sumur untuk cepat-cepat mandi, tapi ia tetap menutupi tubuhnya hingga di bawa ketiaknya dengan sarung mandi.

Waktu itu saya duduk di puncak bukitan kecil yang jaraknya kurang lebih 5 m dari tempat si Sari mandi. Ia tidak pernah merasa malu apalagi takut pada saya, karena saya sudah dianggap sahabat dan keluarga sekampung. Namun, entah setan dari mana yang mengetuk hati saya, tiba-tiba dibenak saya muncul pikiran untuk mencoba menoleh ke arah Sari yang sedang mandi, yang tidak biasa saya lakukan. Muncul keinginan baru di hati saya untuk memperhatikan bentuk bodi si Sari, tapi sayang separuh tubunya tertutub dengan kain sarung mandi, apalagi cuaca masih remang-remang (kurang jelas).

"Sudah selesai Sari,? giliran saya lagi yah,?". Tanya saya sambil mendekati sumur itu.
"Yeah, baru selesai", jawabnya.
Bersamaan dengan jawabannya itu, ia langsung memutar badannya ke arah saya. Ia langsung kaget seolah mau berteriak sambil menahan nafas. Ia tidak menyangka jika saya sudah ada di pinggir sumur, yang kebetulan tempatku berdiri lebih tinggi dari tempat Sari mandi.

"Mmmaaf", serentak kami ucapkan maaf dengan suara yang tak teratur.
"Maaf, Saya tidak tahu jika kamu belum selesai", kata saya.
"Maaf juga, sebab saya tidak tahu jika kau sudah mendekat", katanya seolah-olah merasa bersalah pada saya karena waktu memutar badannya ke arah saya ia dalam keadaan terbuka sarung mandinya untuk mengganti sarung yang sudah disiapkan di dekatnya.
Untuk itu, sempat saya menyaksikan pemandangan yang sungguh indah dan menggetarkan hati saya. Saya belum pernah menyaksikan keindahan seperti itu sebelumnya pada gadis lain.

Walaupun hanya sekilas, tapi pemandangan tadi itu cukup mengganggu konsentrasi saya, sehingga terbawa-bawa sampai tiba di rumah. Sejak pemandangan yang saya saksikan di-sumur tersebut, saya selalu berfikiran aneh-aneh pada si Sari, yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Karena itu, hubungan persahabatan saya semakin dekat dan akrab, bahkan saya selalu berusaha untuk meningkatkan hubungan itu menjadi hubungan pacar/cinta. Ternyata impian saya itu jadi kenyataan ketika beberapa hari setelah kejadian itu, saya menawarkan belajar bersama di rumahnya dalam bidang studi mate-matika, ternyata ia setuju.

Saya masih ingat, waktu itu malam Minggu tepat pada jam 7. 30 malam, saya sudah berada di rumahnya. Kami sempat makan malam bersama di rumahnya bersama dengan kedua orangtua dan seorang adiknya. Kebetula Sari tinggal bersama kedua orangtuanya dengan seorang adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sedangkan Sari sendiri sudah duduk di bangku sekolah sederajat SMA. Berhubung karena bapaknya telah merantau selama puluhan tahun, sehingga ia sangat terlambat dikaruniai adik.

Setelah kami makan bersama, kami mulai belajar bersama-sama di ruang tamu sari. Sedang Bapak Sari, pergi ke rumah tetangganya ngobrol-ngobrol mungkin soal pertanian, sementara Mama dan adiknya ke tempat tidur, mungkin kecapean habis kerja keras di sawah. Pada awalnya belajar bersama kami berjalan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun. Kami berdiskusi sambil tukar pengalaman masalah pelajaran di sekolah kami masing-masing.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 10. 00 malam, cara duduk saya masih tetap normal di tempat semula, tapi Sari nampaknya mulai agak kecapean, sehingga ia sedikit merebahkan kepalanya ke sandaran kursi kayu tempat duduknya. Tiba-tiba saya teringat pada keindahan tubuh Sari yang telah saya saksikan di sumur, akhirnya mulai konsentrasi saya terganggu lagi. Mungkin akibat cara duduk Sari yang sedikit menjulurkan kedua kakinya di bawah meja, sehingga sempat bersentuhan dengan kaki saya. Saya mencoba berpura-pura jatuhkan polpen di bawah meja, lalu saya membungkuk di bawah meja tersebut untuk meraih polpen saya yang jatuh itu.

Keadaan konsentrasi belajar saya semakin tidak karuan setelah saya melihat paha Sari saat saya meraih polpen, yang kebetulan jatuh dekat kaki Sari. Bahkan walaupun dag, dug pada jantung saya saat itu, tapi saya tetap memberanikan diri menyentuh dan mengangkat sedikit paha Sari yang tergolong putih mulus di depan mata saya itu dengan alasan meraih pulpen yang ada di bawah kedua kakinya. Bukan main kagetnya waktu itu, ia tiba-tiba tersentak keras ketika merasakan pahanya bersentuhan dengan tangan saya. Mungkin ia kurang biasa tersentuh dengan kulit laki-laki.

"Maaf, saya tidak sengaja Sari", demikian ucapan saya dengan perasaan takut kalau-kalau ia marah pada saya.
"Tidak apa-apa, kan tidak disengaja, cuma saya sedikit kaget, saya kira apa", Katanya sambil tersenyum pada saya.
Karena sikapnya yang tidak marah itu, apalagi sedikit tersenyum pada saya, maka saya tentunya sangat bahagia dan bangga, karena memperoleh hasil yang sedikit memuaskan. Yeah, ada motivasi untuk mengembangkan.

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 11. 15 m malam itu, saya coba memancing untuk pulang kerumah saya dengan alasan ia sudah mulai ngantuk.
Tapi tiba-tiba"Jangan dulu pulang Aidit, ini masih pagi. Buktinya Bapak saya belum selesai ngobrol di rumah tetangga, apalagi besok kan hari raya, kita tidak perlu cepat-cepat bangun untuk ke sekolah".
Perkataan Sari dengan penuh harap agar saya masih mau tetap menemaninya belajar. Demikian besarnya harapannya untuk ditemani belajar, sampai-sampai ia dengan berani menarik tangan saya dan menyuruh saya duduk kembali di tempatku.

Padahal dalam hati kecil saya, ingin rasanya berlama-lama bersama Sari. Saya hanya ingin menguji kesetiaan dia terhadap saya setelah saya tadi dengan lancang memegang pahanya. Karena sikapnya mencegah saya pulang kerumah lebih cepat, maka secara otomatis saya bisa meyakini kalau dia juga senang dan penuh perhatian pada saya. Entah apakah di hatinya juga ada perasaan aneh seperti yang saya rasakan atau tidak, tapi yang jelas malam itu saya semakin penasaran untuk bertindak lebih jauh padanya.

Dalam benak saya, suatu kerugian besar jika saya hanya duduk-duduk bersama dia tanpa ada peningkatan reaksi, sebab konsentrasi belajar saya juga sudah tidak terarah dan kesempatan seperti ini juga sulit didapatkan, ditambah dengan munculnya dorongan birahi terhadap dia. Akhirnya walau pelan sekali dan penuh keragu-raguan serta jantung berdebar-debar, saya mencoba sedikit demi sedikit menyentuhkan ujung kaki kanan saya pada salah satu ujung kakinya, namun ia hanya diam dan tidak berkomentar sedikitpun. Malah sempat memandangi wajah saya ketika saya mencoba merapatkan kedua betis saya pada kedua betisnya yang tidak tertutup, tapi hanya sejenak. Setelah itu ia kembali membuka-buka bukunya.

Sambil berpura-pura buka-buka buku di depan saya, saya mencoba meningkatkan reaksi dengan menjulurkan kedua kaki saya lebih ke depan lagi sambil mengangkat sedikit tempat duduk saya ke depan, sehingga lutut saya sempat menyentuh paha Sari yang masih terbungkus sarung. Kali ini ia kembali memandang wajah saya, sehingga sayapun menyambut dengan tatapan yang sama. Cukup lama kami saling menatap tanpa kata-kata dan tanpa gerakan yang berarti. Tiba-tiba"tok, tok, tok", pintu berbunyi pertanda ada orang yang mau masuk ke rumah. Spontan kami tersentak dan langsung menghentikan kegiatan kami itu.

Setelah Sari berlari membuka pintu, ternyata Bapaknya sudah kembali ke rumah.
"Masih pada belajar?", tanya Bapaknya.
"Yah pak", jawaban kami secara serentak.
"Besok kan Sari tidak sekolah pak, jadi kesempatan saya diskusi dengan Aidit, yang lebih luas pengetahuannya dari saya", kata Sari merayu bapaknya agar kami diizinkan tetap melanjutkan belajar bersama.
"Terserah kamu deh, yang penting jangan terlalu besar suaramu belajar, sebab saya mau tidur nih", ucapan bapaknya mengizinkan untuk tetap melanjutkan kegiatan kami.

Alangkah gembiranya perasaan saya mendengar ucapan Bapak Sari yang cukup bijaksana dan penuh pengertian itu. Ingin rasanya saya memijat badannya yang letih itu sebagai tanda terimah kasih saya padanya agar ia dapat lebih cepat dan lebih pulas tidurnya, biar kami lebih leluasa melanjutkan kegiatan kami tadi. Waktu terus berjalan tanpa terasa dan kini jarum jam menunjukkan pukul 12. 00 malam. Bapak Sari kedengaran berdengkur sebagai tanda tidurnya sangat nyenyak, sementara Ibu dan adik Sari yang kamarnya terletak jauh di belakan dekat dapur, yang tidak diragukan lagi akan terganggu tidurnya sejak tadi.

Kami berdua nampaknya semakin semangat dan bergairah melanjutkan kegiatan kami tadi. Kini saya tidak canggung lagi setelah dua kali saya coba menyentuh Sari tapi tidak ada reaksi yang negatif terhadap saya. Begitu pula Sari kelihatannya sudah tidak terlalu minder dan malu lagi disentuh. Mungkin ia sudah mengerti arah aksi saya tadi dan ia menyenanginya, seperti perasaan saya. Kali ini, kami tidak hanya saling memandang, tapi juga saling memegang tangan. Kedua tangan saya berada di atas kedua tangan Sari dan Sari tidak memindahkan tangannya.

Setelah saya yakin bahwa tindakan saya itu disambut baik dan dinikmati pula oleh Sari, maka saya menarik tangan kanan saya, lalu mengalihkan ke bawah meja, lalu terus memegang paha Sari. Ia tidak menolak, lalu saya coba masukkan tangan saya di bawah sarung yang menutupi pahanya dan langsung menggerayangi pahanya yang mulus itu. Bahkan saya coba masukkan tangan saya dalam celana Sari, tapi agak sulit karena celana yang dikenakannya malam itu agak sempit dan tebal, sehingga terpaksa saya hanya menggerak-gerakkan tangan dekat pangkal pahanya. Tindakan saya ini berlangsung sekitar 10 menit.

Walaupun Sari hanya terdiam dan tidak banyak goyang saat saya elus-elus pahanya, tapi tanpak dari nafasnya yang terengah-engah dan sikap diamnya, ternyata ia juga cukup menikmatinya. Karena birahi saya semakin sulit lagi terbendung, sementara Sari masih tetap diam tanpa berperan sedikit pun, maka saya mulai mencoba menarik celanaya yang sempit dan tebal itu ke bawah, tapi masih tidak bergeser sedikitpun. Mungkin kancingnya atau ikatannya terlalu kuat. Saya mencoba meraba dan melepas kancingnya, meskipun sangat sulit dan berkali-kali saya coba, tapi akhirnya terlepas juga.

Setelah saya tarik ke bawah dan membuka melalui lututnya maka saya renggangkan sedikit kedua pahanya agar saya lebih mudah meraba alat vital yang terletak di antara kedua pahanya tersebut. Pada saat meraba-raba dan memainkan kelentit dalam vaginanya, Sari masih tetap diam sambil meletakkan wajahnya di atas meja seolah memasrahkan diri terhadap tindakan saya tersebut. Saya semakin yakin, bahwa selain saya pasti Sari juga terangsang dan sangat menikmati permainan saya ini walaupun ia malu mengatakannya. Apalagi saya yakin jika baru kali ini ia diperlakukan dan diberi kenikmatan seperti itu, sebagaimana juga saya baru kali ini berani melakukan hal seperti itu pada seorang gadis.

Akhirnya kebisuan itu, tiba-tiba tersingkap ketika akhirnya terdengar"Aaah hhmm, ss, hh.".
Cuma itu suara yang tiba-tiba keluar dari mulut Sari ketika saya memasukkan telunjuk saya dalam kemaluannya, bahkan saya menggocok-gocoknya, semakin lama gocokan saya semakin cepat. Semakin lama vagina Sari semakin basah. Karena birahi saya semakin menguasai perasaan saya, dan demikian pula tentunya bagi Sari, maka secara bersamaan pantat saya dengan pantat Sari masing-masing kami dorong lebih jauh lagi ke depan, sehingga dagu kami masing-masing tersangkut di atas meja. Sementara paha kami saling menjepit satu sama lainnya di dalam sarung si Sari.

Sungguh tindakan ini suatu hal yang menyulitkan dan menyiksa kami. Kami tentunya masih diselingi rasa takut kalau-kalau ayah atau Ibu Sari terbangun dan melihat perbuatan kami, kami bisa-bisa diusir atau dipukul dan dipermalukan. Maklum di masyarakat desa seperti di desa kami, masih dianggap berpacaran sebagai perbuatan yang tabu dan tidak terpuji, apalagi jika berani melakukan tindakan seperti yang kami praktekkan itu. Perasaan takut bercampur birahi itulah yang selalu menyiksa kami.

Akhirnya kekuatan birahi itu tiba-tiba mengalahkan perasaan takut saya, sehingga tanpa peduli resiko yang mungkin akan menimpa kami dan tanpa ada rasa khawatir dilihat orang, saya tiba-tiba menarik sarung yang dipakai Sari hingga lepas, lalu menurunkan sedikit celana saya hingga ke lutut. Setelah itu saya menarik tangan Sari yang masih pegangan di meja dan membawanya ke penis saya.

Mula-mula tangan Sari agak gemetar dan pegangannya agak lemah, tapi setelah saya mencoba masuk di bawah meja sambil membungkuk (kebetulan tinggi mejanya sekitar 1 meter), lalu mencoba memasukkan tangan dalam baju kaos yang dikenakan Sari dan meremas-remas susunya, maka terasa pegangan tangannya pada penis saya semakin keras, bahkan kali ini ia mencoba menggerak-gerakkannya seiring dengan gerakan remasan tangan saya pada susunya. Semakin lama semakin keras dan cepat. Sayapun tidak berhenti sampai di situ, tapi saya juga mengelus-elus puting susunya dengan jari-jari tangan saya, sehingga sesekali terdengar nafas yang terputus-putus dari Sari.

Setelah saya puas mempermainkan puting susunya dengan tangan kanan saya dan mengocok-ngocok vaginanya dengan tangan kiri saya, apalagi terasa ada isyarat dari tangan Sari yang seolah menarik agak keras penis saya lebih dekat ke arahnya, maka saya melepaskan tangan kiri saya dari vaginanya sambil maju selangkah hingga pinggang saya persis berada di antara dua pahanya yang saya rasakan dari jepitan pahanya, lalu kedua tangan saya meremas-remas susunya yang sedikit kecil tapi keras, bahkan saya menyingkap sedikit baju dan BH-nya ke atas lalu saya jilati puting susunya yang agak kecil bulat.

Walaupun saya tidak dapat melihat dengan jelas warna isi vagina dan puting susu Sari saat itu karena lampu minyak yang kami gunakan ada di atas meja, tapi saya cukup merasakan betapa sempit dan mungil vagina Sari serta buah dada yang halus, putih dan keras serta putingnya yang kecil bulat. Hal ini terasa dari sulitnya jari telunjuk saya masuk lebih dalam, bahkan seolah terjepit ujungnya, padahal vaginanya sudah cukup membasahi pangkal pahanya yang tidak satupun bulu tumbuh di situ.

Setelah puas meremas, mencium dan menjilat-jilati susunya maka saya coba maju selangkah lagi, sehingga penis saya yang telah tegang sejak tadi terasa bersentuhan dengan kulit yang lembut, bahkan terasa menyentuh tonjolan daging yang lembut setelah saya agak bergeser sedikit. Pada saat yang bersamaan, Sari pula menggerakkan pinggulnya ke depan sehingga terasa seolah ujungnya tertancap pada suatu lubang yang membuat ujung penis saya tidak bisa bergeser lagi, dan sayapun rasanya tidak ingin menggerakkannya setelah mengetahui bahwa sudah tepat pada sasaran pokoknya.

"Aduuh, enaknya Dit, jangan dilepas dulu yeah.", Itulah suara bisikan yang saya dengan dari mulut Sari dari atas meja pada saat saya sedikit mendorong penis saya ke depan.
Ia pun nampaknya sangat penasaran menanti masuknya penis saya lebih dalam, sehingga dengan sangat lincahnya tiba-tiba meninggalkan tempat duduknya dan turun juga di bawah meja sambil memeluk keras punggung saya. Karena dorongan birahinya yang menjadi-jadi, maka Sari tiba-tiba mendorong saya dan melepaskan pelukannya, lalu tidur terlentang di atas selembar papan kecil yang melintang sebagai penyanggah keempat kaki meja itu, sambil menarik bajunya hingga ke lehir dan mengeluarkan kedua payudaranya dari BH yang dikenakannya

Melihat sikapnya yang demikian itu, maka saya cukup mengerti apa yang dikehendakinya. Nampaknya ia semakin tidak sabar lagi, sehingga ia langsung menarik tangan saya lebih dekat sebagai isyarat bahwa ia telah siap diserang memeknya setelah dari tadi basah dan menanti. Tentu saja tanpa berpikir panjang, saya langsung mengangkanginya dengan berlutut, sebab saya tidak melepaskan penuh celana saya, melainkan hanya sampai di pergelangan kaki, yeah, kalau ada apa-apa, kan bisa cepat dipasang dan lari. Untung malam itu kami tidak pernah kepergok oleh siapa-siapa hingga tuntasnya permainan.

"Hemm, aahh, hemm, aah, eenak sekali Dit", hanya itu suara yang mampu keluar dari mulut Sari secara berulang-ulang ketika saya secara pelan tapi pasti masukkan sedikit demi sedikit penis saya ke memek Sari.
Mulanya memang sulit dan nampaknya agak terasa sakit bagi Sari, tapi setelah saya coba berkali-kali tanpa terlalu memaksakan masuknya, akhirnya amBLas juga dan nampaknya bukan hanya menikmatinya, tapi Saripun kelihatannya dapat merasakan kenikmatan malam itu yang tiada taranya. Terbukti dengan semakin cepatnya gerakan pinggulnya ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan pinggul saya yang menggenjot vaginanya semakin lama semakin cepat serta semakin dalam

Hingga pada akhirnya, saya merasakan sekujur tubuh Sari agak mengejang dan gerakannya semakin dipercepat dan pelukannya terhadap saya semakin dipererat, bahkan sempat menggigit kecil bibir saya. Tanpa saya ketahui tanda-tanda itu, sayapun menyambut dengan gerakan yang sama dan juga menggigit balik bibirnya tapi tidak sampai melukainya, hingga pada akhirnya saya bagaikan lupa daratan, ternyata saya mengeluarkan sperma (muncrat) pada saat yang bersamaan di dalam vagi Sari. Karena merasa sudah meraih keuntungan belajar bersama malam itu dan tiba-tiba kembali rasa takut ketahuan, maka kami bergegas keluar dari dalam meja, lalu memperbaiki posisi kami seperti semula. Kami hanya mampu saling melempar senyum tanpa bisa berkata-kata, sebab kami sulit membahasakan apa yang telah kami nikmati barusan.

Sejak penis saya masuk dalam vagina Sari, kami hanya bermain dalam satu posisi karena kami terpokok dalam masalah tempat yang pas-pas dan suasana yang kurang aman Tapi walaupun satu gaya, kami cukup berhasil dan puas memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan pada suasana tempat yang sangat perlu kehati-hatian melakukannya. Bahkan rasanya papan tempat Sari terlentang, cukup membantu permainan kami, sebab kedua paha Sari dapat terbuka lebar dengan mudah, lubang vaginanya dapat lebih menganga sedikit, bahkan membuat Sari lebih aktif bereaksi, sehingga kami dapat menyelesaikan permainan itu pada waktu jarum jam menunjukkan pukul 1. 00 malam tanpa terasa dan tanpa resiko, kecuali kenikmatan yang luar biasa yang dapat kami raih secara bersama-sama.

Itulah buahnya belajar bersama dengan seorang gadis di tempat yang sepi pada kesunyian malam. Pikiran itulah yang mewarnai perasaanku malam itu sebelum saya mohon diri dari rumah Sari untuk kembali ke rumah saya. Setelah sampai di rumah, saya langsung berbaring tapi tidak mudah tertidur, karena selalu dibayang-bayangi oleh suatu kenikmatan yang belum pernah saya alami seumur hidupku pada gadis yang menurut pengakuan Sari setelah sesaat selesainya permainan tadi, juga belum pernah mengalaminya. Karena itu, akan menjadi kenangan manis bagi kami selama hayat dikandung badan. Hingga akhirnya sayapun tertidur pulas sampai jam 9. 00 pagi.

Setelah ketemu kembali Sari di sumur pada waktu ia mencuci pakaiannya, ia sedikit berbisik pada saya bahwa ia mendapati sebercak darah pada papan penyangga meja yang kami pakai tadi malam. Tapi saya hanya tersenyum, sambil berkata dalam hati bahwa ternyata sayalah yang paling beruntung di dunia ini menggauli gadis perawan tanpa banyak hambatan. Mungkinkah saya bisa meraih kenikmatan seperti itu kembali selama hidupku? Hanya nasiblah yang dapat menjawabnya. Moga-moga saja.

*****

TAMAT

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment