Bang Mandor (cerita dewasa)

Bookmark and Share
SEBAGAI tukang batu, Muradi, 36, sudah biasa menurap tanggul. Tapi giliran jadi mandor proyek, istri orang pun “diturap”-nya dalam kamar. Wah, tentu saja Mursid, 27, sebagai suami Yatini, 25, mencak-mencak. Saat keduanya kepergok bersetubuh, langsung Pak Mandor diarak bugil ke kantor Kades.

Ternyata yang suka terlibat “cin-lok” (cinta lokasi) bukan saja artis film maupun sinetron. Orang-orang proyek bangunan, karena jauh dari istri, bisa juga gresek-gresek (cari seadanya) di lingkungan sekitarnya. Bukan saja pada para wanita penghibur, jika perlu istri orang juga bisa “ditlateni”, sepanjang mau sama mau dan berlangsung tanpa tekanan sekaligus tanpa imbal jasa.

Muradi adalah tukang batu asal Bondowoso (Jatim), yang mendapat pekerjaan jadi mandor proyek plengsengan (turap saluran) di Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo. Demi pekerjaan itu, dia harus meninggalkan anak istrinya di kampung, lalu tidur di bedeng proyek bersama para tukang batu anak buahnya.

Soal tidur sih memang mudah dan tak ada masalah bagi Muradi. Tapi untuk yang “ditiduri”? Ini yang repot, sebab sudah berminggu-minggu lebih dia non aktif dari kegiatan sunah rosul bersama istri tercinta. Kalau sudah begini, Muradi pun suka mengeluh, begini repotnya jauh keluarga. “Urusan perut masih bisa diatasi, tapi yang di bawah perut?” kata batin Muradi sambil menatap langit-langit bedeng.
“Untung”-nya, tak jauh dari lokasi proyek di Desa Sumberkolak ini, Muradi dapat “sawangan’ yang cukup lumayan. Ada seorang wanita muda yang cukup cantik, namanya Yatini. Bodinya bolehlah, seksi menggiurkan. Betisnya juga mbunting padi./ Kalau ada cacat, paling-paling kenapa wanita itu sudah milik orang alias sudah bersuami. Kalau saja masih single, mau Muradi mengajak main “ganda campuran” sampai longset.

Mengusir rasa sepi jauh dari istri, Muradi suka pura-pura minta api ke dapur Yatini manakala mau merokok. Dari situlah keduanya lalu asyik ngobrol, sampai menjurus hal-hal serius. Lama-lama pun makin asyik. Di kala anak buahnya di proyek sibuk pasang blouwplank dan bongkar batu kali, dia di rumah Yatini malah sudah berani bongkar BH tuan rumah. Itu saja dulu…………

Meski urusannya baru tahap antar “keluarahan” belum sampai “balaikota”, lama-lama warga mengetahuinya juga, sehingga dilaporkan pada suaminya. Celakanya, Mursid tak berpikir dewasa sebagai suami. Begitu tahu istrinya “ada main” dengan mandor proyek plengsengan, dia malah mengadakan tindakan “pisah rumah” alias kembali ke rumah orangtuanya. Itu artinya, Yatini malah diberi hak otonomi seluas-luasanya.

Mestinya, Yatini jadi mengerem aksi selingkuhnya bersama Muradi. Ternyata malah sebaliknya. Tahu suaminyua jarang pulang ke rumah, malah tambah mbagusi (makin nekad). Saat Muradi datang ke dapur dan kemudian minta masuk “balaikota” langsung saja dilayani dalam kamar. Jadilah keduanya berbuat layaknya suami istri. Di proyek tukang terus menurap saluran, di kamar Muradi terus menurap cinta Yatini.

Entah sudah berapa kali proyek “turap” tanpa bestek dan termin itu berlangsung, tahu-tahu kepergok Mursid suami Yatini. Bagaimana dia tak marah, dengan mata kepala sendiri melihat betapa Muradi – Yatini main kuda-kudaan di siang hari bolong.  Suami malang ini segera berteriak panggil penduduk. Warga yang segera berdatangan langsung menghakimi Muradi. Bahkan lebih dari itu, dalam kondisi bugil bin gobal-gabel (nampak onderdilnya), Muradi diarak menuju rumah Pak Kades.
Masih untung hanya dibugili, kalau diprotholi?