Ketika Keperawananku Direnggut Pertama Kali [Cerita seks]

Bookmark and Share
Cerita Dewasa - Cerita Seks - Saat itu awal tahun 2003, sekitar bulan Januari tanggalnya lupa, aku
sedang mencuci mobilku sendiri, karena ortuku lagi ke rumah nenek di Bogor
dengan mobil dinasnya, dan kebetulan sopir baru keluarga kami, Dedi ,
sedang mengantar adekku Danti pake mobil papahku ke sekolah. Ketika itu
jam 7.30, sementara sambil nunggu waktu kuliah aku cuci mobil sendirian di
belakang halaman rumahku, kemudian tak lama ada temenku datang si Asni, yg biasa menemaniku kalo mau kuliah, walopun aku harus sudah bimbingan tugas akhir, namun ada beberapa mata kuliahku yg blum beres memaksa aku harus ambil mata kuliah tersebut lewat smester pendek. Si Asni mengagetkanku dari belakang dengan menutup mataku kala aku lagi semprotkan air, “Hayooo…cuci mobil pake acara seksi2an segala” katanya saat itu, memang aku saat cuci mobil blom mandi sama sekali, karena sehabis bangun tidur langsung aku cuci mobil, kebiasaanku aku kalo pake baju tidur selalu ga pake BH sama celana dalem, aku menjawab saat itu “eh elo As, ngapain pagi2 bgt kesini??” , jawabnya lagi “yeee….khan mo kuliah bareng” aku tersenyum dan mempersilahkan dia ke kamarku…”ya udah lo ke kamarku aja gih…” sesaat si Asni ke dalam kamarku, tak lama berselang terdengar suara mobil masuk garasi depan yg artinya Dedi sopirku sudah balik ke rumah seusai nganterin adeku sekolah, lalu dia nyamperin aku “Dibantu ya Neng Dita nyuci mobilnya?? Ga ada kerjaan lagi nih saya”kata Dedi dari belakangku
menyahut, dan pas aku menoleh ke belakang aku bermaksud mengerjainya
dengan meyiramkan selang air ke badannya, tapi dia malah ketawa dan
merebut selang di genggamanku dan berbalik menyiramkan air ke tubuhku,
otomatis baju tidurku basah kuyup, dan disaat basah itu sudah pasti
seluruh tubuhku tercetak oleh air yang membasahi baju tidurku, dan saat
aku mau merebut selang air darinya dia terjatuh dan tubuhku menimpa
dirinya,”wah Neng Dita mah pake acara tindih2an segala jadi repot
nih”katanya “kok repot???” Jawabku, sambil melirik rambutnya yg basah,
memang kami udah akrab sejak beberapa bulan terkahir, namun si Dedi itu
seperti jaga jarak denganku sejak 4 minggu terakhir ga tau kenapa, mungkin
ortuku sudah mencium gelagat hubungan kami yg tidak wajar. “iya repot,
Neng, soalnya anu loh, maaf, dadanya si Neng keliatan pisan kena
air”katanya lagi”yeeee, enakan disitu”kataku lagi dengan balas canda.
namun tiba2 aku berbisik padanya”mas Ded, jgn begini ah risi ada temenku
si Asni di kamar, ntar kalo ngeliat kita kaya gini, maluu tuh” kataku
memperingatkan, “ya udah Neng Dita ke kamar saja, biar saya trusin
cucinya”katanya lagi, aku menganguk dan aku langsung masuk ke dalem,
sementara di dalem si Asni lagi asik cheting dikamarku yg kebetulan online
internet aku suruh aja dia kuliah secara tiba2 kawatir dia nunggu terlalu
lama”Asni maafin gw dech, lo duluan aja ke kampus biar aku nanti dianterin
sama sopirku”kataku berbohong, “ya udah Dit, loe bener ya susul aku?? Neeh
gue ngasih surat dari si Edwin kakakku”katanya. “ya udah loe simpen aja di
meja belajar, gw basah bgt neh kena air tadi ga usah khawatir dech, aku
pasti kok kuliah, lagian jam 11 ini kuliahnya, skarang baru jam 8”.Lalu
dia pamit dan berangkat sendiri ke kampus, sementara aku ambil handuk dan
berniat untuk mandi, ketika aku mandi aku harus ke ruangan bawah, karena
toiletnya memang deket ruang tamu, setelah selesai mandi, aku lilitkan
handuk sampai sedada, sementara ujung bawahnya hanya sepaha karena
handukku itu memang ga terlalu panjang, tetapi alangkah kagetnya setelah
aku keluar dari kamar mandi, Mas Dedi sopirku itu mendekap dari belakang
dan langsung menciumi rambut dan kuping belakangku, aku kaget dan
terhenyak sekali sampai berbalik dan mendorong tubuhnya ke belakang, dia
malah kaget dan bertanya agak keras “Kenapa Neng kok kaya gituh? Padahal
beberapa bulan lalu malah si Neng yg minta di belai sama di pijatin
???”katanya. aku hanya menjawab saat itu”itu dulu Mas, sekarang Dita ga
kepengen lagi gitu2an ah, Mas Dedi khan udah punya istri di kampung,
lagian Dita saat itu lagi deket sama Edwin kakaknya Asni, ga usah lagi deh
kaya gitu2an, kalo tadi kita bercanda2 seeh, ga papa, tapi kalo Mas Dedi
kelewatan gitu sementara Dita nya lagi ga mood, jangan dech”kataku lagi
sambil bergegas aku menuju tangga menuju ke kamar, sepintas kuliat si Dedi
yang terjatuh tadi hanya menatap heran, mungkin dia merasa aneh dengan
perlakuanku saat itu. Lalu dia seperti yang mau menyusulku ke atas kamar
dan saat mau masuk ke kamarku dia malah menarik handukku dari belakang,
sehingga terlepas handukku seluruhnya dan otomatis aku telanjang bulat
dengan posisi membelakanginya, dan setelah aku berbalik mau menutup pintu kamarku, tangan kuat Dedi lebih cepat menahan pintu kamar dan seperti yang berusaha masuk, lalu kami saling dorong dan akhirnya aku nyerah setelah dia nekat masuk ke kamarku sementara aku tutup kedua dadaku dengan tangan karena handuk yang tadi ditarik dia ada diluar, “nah Neng, sekarang saya minta jatah ke Neng Dita setelah beberapa bulan ga dikasih pijatan2 lagi, ini resiko si Neng karena dulu sudah memulainya, jadi saya ketagihan nih minta jatah ”katanya . Saat itu aku hanya tertunduk menyesali diri kenapa aku sampai kebablasan kasih dia kesempatan menggerayangi tubuhku, padahal kalo saja aku jaga jarak sama dia mungkin kejadiannya ga akan seperti ini pikirku saat itu menyesali, dengan posisiku mundur trus duduk di pinggiran ranjang kamarku dan menutup dadaku dengan tangan kiri sementara kemaluanku aku tutup dengan tangan kanan memohon ke dia supaya mau keluar kamarku
“Mas Ded, tolong jangan nekat deh, Dita mohon, soalnya Dita lagi deket
sama temen laki di kampus”kataku memelas, namun rupanya setan sudah
merasuki pikiran Dedi saat itu, lalu dia menaiki ranjang tidurku, sementara aku masih duduk di pinggiran ranjang, dan anehnya saat Dedi mulai membelai rambut, pipi dan bahuku, aku terdiam tanpa perlawanan, lalu dia berusaha melepaskan tangan kiri yang menutupi dada ini, dan itupun aku terdiam sambil tetap tertunduk, sampai akhirnya dengan posisi aku terduduk
telanjang di pinggir ranjangku itulah Dedi sopirku itu memulai menyentuh
bagian2 tubuhku mulai dari rambut, ke leher, bahu dan ahhh puting payudara
kiriku kena sasaran juga apalagi tangan kekarnya itu menjelajah payudara
memutar jemarinya di puting dada kiri kanan, merinding sekali rasanya,
tangan kiriku dibiarkan tergeletak di atas kasur setelah hampir satu bulan
lamanya ga melakukan kegiatan belai2an dengannya sementara tangan kananku masih menutup kemaluan bawahku, namun rupanya Dedi lebih berpengalaman dalam membuai wanita, dia masih di ranjangku dengan posisi berlutut mengusap2 bagian atas tubuhku dengan sesekali menciuminya, mungkin dia semakin bernafsu pikirku saat itu karena terlihat dari nafasnya yang ngos2an dan memburu serta wangi sabun yg masih melekat di tubuhku , rambutku yg mulai panjang terlihat seksi hampir menutupi kedua payudaraku saat kutatap cermin disebelah sisi ranjang tempat aku duduk yang mungkin menambah gairah seksnya pikirku lagi, apalagi saat itu aku bertambah berat badan sekitar 55 kg dari 40-an kg dan sudah terlihat padat berisi dengan pinggul yg semakin membulat dan tubuh putih tanpa noda sementara dadaku yg mancung sudah berukuran 34b membuat dia semakin bernafsu kala membaringkan aku tidur di ranjangku sendiri, dia diatasku menindih masih menggunakan kaos singlet dan celana jeansnya, sementara aku telanjang bulat dibawah tindihannya, lelaki mana yang akan menolak perempuan yang sudah pasrah sepertiku saat itu, terlintas di pikiranku mau menyudahinya mengingat aku harus kuliah jam 11 tapi dengan segala kepandaian dia mencumbu, akhirnya aku nyerah juga, “ahhhh…Mas Ded, jangan donk…..ahhhh…sssssaayaaa mmmaau kulliiaahh neehhhh…ahhhhmassss” begitu seingatku kata2 yg meluncur dari bibir mungilku saat Dedi menciumi hampir seluruh tubuhku sampai ke perutku dan akhirnya dia berhasil menepiskan tangan kanan yang memegangi kemaluanku tadi dan saat cumbuan itu datang ber tubi2 akupun terbuai sambil menggigit bibir bawah dan memejamkan mata serta mencengkram seprei kasur yang semula tertata rapi menjadi acak2an dengan kedua tanganku ini.

Setelah beberapa kali aku mengejang dan merapatkan dua paha ini ke atas,
Dedi membuka baju singletnya dan seperti melepaskan gesper dan celana
jeansnya, sehingga saat itu kulihat Dedi betul2 dalam keadaan tubuh polos
hitam legam namun agak tercium bau badan khas laki-laki dengan kemaluan
mengacung ke atas yang tak kalah hitamnya namun berdiameter besar, lebih
besar dari kemaluan mang Sardi pamannya, dan kala dia mendekap aku lagi
dari atas dia berbisik di sisi telinga kiriku “Neng Dita sayang, saya ga rela kalo tubuh Neng di nikmati si Edwin sialan itu!!”katanya, aku tersentak kaget ”koq Mas Dedi seperti itu ngomongnya?”kataku. ”Emang Mas ini siapanya aku??” kataku lagi, namun aku tetep ga beranjak dari dekapannya mengingat kepala kemaluan Dedi sudah menggesek2 paha kananku yang menambah
rangsangan semakin tinggi, saat itu Dedi mulai gencar lagi mencumbui
berbagai bagian2 sensitifku dan aku bener2 dibuat tak berdaya kala sekujur
tubuhku dijilati olehnya walaupun mulutnya itu bau, tapi karena jilatan
demi jilatan di payudara, perut dan kemaluan, akhirnya aku bener2 dibuat
tak berdaya sampai akhirnya dia berbisik lagi ”Neng maukah merasakan yang
lebih nikmat selain di pijat dan di elus??” aku ga menjawab karena saat
itu aku hanya terpejam dan menikmatinya saja tanpa ada pikiran yang lain.
Sampai akhirnya hal yang tidak terduga sama sekali, Mas Dedi mencoba
menggesek2an kemaluannya di bibir kemaluanku, semula aku beberapa kali
menggoyangkan badan ke kiri dan kekanan dengan harapan jangan sampai masuk penis dia ke kemaluanku, namun dengan tangannya yg kekar dia mencengkram pinggulku dua2nya sehingga posisi panggulku berhenti bergerak dan dengan mengangkangkan kakiku dua2nya dengan kaki kanannyas secara per lahan2 penisnya itu sedikit demi sedikit berhasil masuk dan ahhhhhhhhhh “sakkitttt masssssssss……jangaaaannnnn ssspertiii ituuuuuuu”teriakku saat itu” ga apa2 neng, tenang saja, hanya sebentar sakitnya”katanya. ”Tahan saja sedikit lagi” katanya lagi. “ahhhhh jangaannnn massss…..”dan akhirnya jebollah pertahananku mulai dari ¼,1/2, dan lama2 100 % masuk seluruh penisnya ke kemaluanku dan dia menggenjot naik turun tubuhnya yang ceking itu secara beraturan diatas tubuhku yg kontras sekali hitam diatas putih saat itu namun lama-kelamaan memang terasa enakkk sekali, tapi aku sempet bertanya dalam hati, kok ga sampai keluar darah walaupun dia menggenjotnya keras sekalii, tapi aku ga peduli saking nikmatnya sampai kalo dihitung mungkin 6-7 kali aku mengejang, namun ketika dia semakin cepat menggenjotnya secara tiba2 dia mengeluarkan penisnya dari kemaluanku dan bersamaan dengan itu yg aku tau ada sepercik darah tapi ga banyak sama seperti ketika mens dan dia pun menyemburkan pipis kental dari penisnya di atas perutku…..”Supaya Neng Dita ga hamil jadi saya keluarkan diatas sini” katanya sambil menunjuk perutku…..panas sekali rasanya seperti disiram air termos, namun setelah persetubuhan itu selesai, aku meringgis menahan sakit, karena memang kemaluanku terasa perihketika dia mencabutnya secara tiba2 itu…lalu dia ke bawah dan membawa air hangat dan dioleskannya air hangat tersebut ke bibir kemaluanku dengan kapas karena masih tersisa bercak2 darah. Sementara aku terkulai lemas tidur terlentang karena cape,nikmat dan perih…..setelah itu jam menunjukan pukul 10.30 aku disuruh Mas Dedi berpakaian.”biar saya anterin Neng ke kampusnya” katanya lagi, aku menganguk lemas saat itu. Tapi setelah kejadian itu kami tidak melakukan hubungan apa2 lagi dengan Dedi karena Papa menyuruh Dedi pulang kampung dan memanggil kembali pamannya Mang Sardi entah apa alasannya, hampir 3 bulan lamanya sejak kepulangan Dedi aku ga pernah mendapat sentuhan2 laki-laki. Dan Mang Sardi sebagai pengganti Dedi pun blum dateng2 juga ke sini pada saat itu, sementara aku semakin akrab dengan Mas Edwin, tapi dia belum berani berbuat jauh seperti kedua sopirku itu, hanya saja baru sebatas cium pipi dan kening saja, karena tuk memulainya aku sama sekali ga berani…namun sejak kedatangan Mang Sardi kembali aku merasakan hal2 yg luar biasa lagi…

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment