Cerita Dewasa Pecahnya KeperawanKu Di Malam Ini

Bookmark and Share
http://desmond.imageshack.us/Himg529/scaled.php?server=529&filename=cewekcantik9.jpg&res=medium 

Alexis Bledel sangat menawan saat memasuki sebuah taxi carteran regularnya, dia bersama seorang pemuda yang beberapa kalangan anggot wanita dari club tsb mengenalnya sebagai pria tampan dan macho berpenis besar.
http://desmond.imageshack.us/Himg529/scaled.php?server=529&filename=cewekcantik9.jpg&res=medium
Sebenarnya Alexis telah sedikit mengenal pria tsb dari member club lainnya. Hanya itu dari mulut kemulut, dan ia tidak berminat untuk menyelidiki pria tersebut.

Dan sekarang ia berhasil mengajak pria tsb untuk berkencan dengannya. Namanya Jeff.

Ya aku adalah Jeff.
Bagi sebagian wanita yang berumur dari kalangan istri para pengusaha, wanita simpanan dan wanita eksekutif yang merupakan anggota klub “Gilmore Fantasy”, aku dikenal sebagai salah satu dari beberapa pria yang bisa dikatakan Gigolo yang banyak berkeliaran di klub tersebut dan memiliki referensi service yang memuaskan.

Sebenarnya ukuran penisku tidaklah terlalu besar.
Sebagian dari kami terutama yang berkulit hitam (africa-american) memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan panjang dari milikku.
Tapi bagi sebagian wanita, itu relatif…

Kami duduk dibelakang sambil ia memandang lembut tanganku yg mengelus pahanya.

Alexis cukup agresif dengan tindakanku, dan malah menarik tangan ku keselangkangan pahanya hingga menyentuh celana dalamnya.

Alexis termasuk salah satu selebrities yang masih dibilang perawan. Kencan dengan mantan pacarnya hanya sebatas tubuh dan ciuman saja.

Dan ia mengingkan seks pertamanya pada pria yang “perfect” menurut pandangannya.
Well…mungkin aku bisa dibilang beruntung

Aku tidak tinggal diam dgn aksi Alexis, kutarik celana itu sedikit turun sehingga aku merasakan bulu dan bibir halus dari vagina indah itu.
Sang supir yang sudah biasa melihat kelakuan sang artis langganannya (mungkin saja) tidak begitu perduli dengan keadaan kami di belakang.

Aku sibuk mempermainkan bibir vagina dan clitoris-nya sambil mencium bibir Alexis. Memberinya sedikit sentuhan rangsangan dengan menciumi leher dan pundak sang artis.

Alexis mencoba membalas aksi ku dengan membuka retsleting dan kancing celanaku dan segera merogoh penis ku.
Sebenarnya perjalanan dari club ke appartement Alexis tidak jauh…tapi sang sopir sepertinya sudah mengerti dengan kebiasaan sang artis, Jikalau ia tidak memerintahnya “langsung ke condomium”, dan langsung masuk kedalam mobil tanpa menyebutkan alamat yang dituju, maka itu berarti sang artis ingin dibawa berkeliling kota atau mengitari center park kota lebih dahulu sebelum akhirnya memintanya untuk segera ke appartement-nya.

Udara kota memang terasa sangat dingin…tapi tidak didalam taxi tsb!
Alexis segera membasahi penis ku dari ujung pangkal penis hingga buah zakarku.
Tak ada yang luput dari air liurnya hingga akhirnya penisku ia telan dalam mulutnya dan menghisapnya.

Bibir Alexis memang tergolong sexy dan lentik. “Tipis tapi tajam dilihat”. Sungguh merupakan keinginan bagi setiap pria untuk merasakan bibir tsb.
Alexis malah berfikir kalau ia amat beruntung mendapatka pria seperti diriku yang sedikit memiliki famor “perkasa” dimata anggota wanita club tsb. Well…setidaknya ia ingin tahu sensasi apa yang diberikan dari “my big dick”.

Taxi itu berhenti menandakan telah sampai. Kami keluar dgn saling bergandeng tangan.
Kami lsg menuju elevator mewah dlm apartement tersebut dan segera menuju lantai 8. Kamarnya.

Waktu telah menunjukkan jam 1.00 malam dan tidak nampak lagi lalu lalang para penghuni apartemen lainnya. Cukup sunyi.
Hanya canda dan tawa kecil kami saja yang terdengar.
Lift telah berhenti di lantai 8,

Mereka melewati lorong kamar yang dilapisi ‘kain beludru mewah’ dan suasana yang sudah tidak ada lagi ‘kehidupan’.
Ya malam itu bukanlah malam panjang/malam minggu…sehingga jam seperti ini, para penghuni disini sudah tertidur pulas.
Kamar Alexis berada diurutan ke 2 dari pojok.

Sesampainya didepan pintu kamar, Alexis segera mencari “kartu pass” dalam tasnya, dan segera memberikannya padaku untuk mengesekkannya pada slot didepan pintu tsb.

Aku pun mengesekkan kartu tsb. Tetapi indikator pintu tersebut selalu bertanda merah. Pintu tidak bisa membuka.
Berulang kali aku mengeseknya…hasilnya tetap sama. Cukup lama. Alexis hanya bersandar ditembok menunggu usahaku.

“Bagaimana Jeff?”, tanya Alexis.

“Tidak bisa”, balasku cepat sambil terus mencoba mengesek kartu tsb. Baik dengan cara cepat ataupun lambat, tetap saja indikator itu tidak berubah warna menjadi hijau.

“Apakah kamu yakin, ini kartumu?” tanyaku kemudian.

“Tentu saja”, balasnya.

“Tapi…tunggu dulu Jeff”, balasnya kembali sembari mengecek tasnya.

“A..ha…sorry….kartu itu milik temanku”, sambil ia meminta kartu yg dipegangku dan memberikan kartu lainnya yg baru ia temukan dalam tasnya.

“Ini…milik Aline dilantai 2…ia sedang keluar kota dan menitipkannya padaku”, balas Alexis menjelaskan.
“Tapi…sebentar dulu….”, Alexis menyela pembicaraan kami dan mendekatiku kemudian mencium ku…Akupun membalasnya.

Alexis segera mencari retsleting celana jeans-ku dan membukanya..mencari ‘barang’ yang pernah ia lumuri dengan air liurnya di taxi tadi.



“Hei…nanti ada orang lewat”, cegahku halus.

“It’s ok….tidak akan ada”….”Akan menjadi menarik, bukan?”, tantang Alexis sambil menatapku tersenyum.

Alexis segera melumat penis-ku.
Aku terpaksa bersandar di dinding.



Kami melakukan “blow job” di tempat umum!

Aku deg-degan tapi bagi Alexis itu menambah birahinya.
Aku celingkuan kesana kemari memandang koridor lorong tsb, mengantisifasi jikalau ada orang lewat.

Alexis menurunkan jeans-ku “setengah tiang”.

Menjilati semua bagian kemaluan-ku, dari batang penis, buah zakar hingga mendekati lubang anus-ku.

Aku mengeliat nikmat. Aku segera merogoh dari atas baju Alexis dan mencari payudara indah yang tersembunyi disana.
Meremas, mengusap dan memililin puting payudara Alexis hingga membuat-nya terangsang.
Sensasi luar biasa, ‘anal sex’ di lorong apartemen!

Suasana ruangan yang sepi berubah menjadi sayup-sayup terdengar “ceppp….ceppp…” akibat sedotan keras Alexis pada batang penis-ku. Mengemut kuat batang penis-ku sambil tangannya tak henti-henti meremas buah zakar-ku.



Sesekali aku..lepas kontrol dengan menekan keras kepala Alexis pada penis-ku agar menelan semua batang penis itu.

Urat disekeliling penis-ku yang membesar, menambah indah bentuk sang penis bagi Alexis. Ia sangat suka sekali. Berusaha menghisap sekerasnya kemaluan tersebut layaknya batangan coklat. Nikmat…dan fresh…



Tak lama terlihat lampu lift menyala dari lantai bawah hendak menuju keatas.
Aku panik dan mendorong lepas kepala Alexis, “ssstt….ada orang naik”, kataku sambil bergegas menaikkan celana-ku.

Ternyata lampu itu hanya berhenti di lantai bawah kami.
Kami memutuskan untuk masuk saja agar lebih aman.
Pintupun terbuka dan kami segera masuk.

Alexis segera menuju ke shower. Aku menyusul kemudian.

Kupandangi seluruh tubuh sang artis. Payudara itu sedikit kecil tapi putingnya sangat terlihat bagus.
Alexis tidak perduli dengan pandangan-ku, ia terus membaluri tubuhnya dengan air hangat dan sabun gel-nya.

Aku segera jongkok dan membalikkan tubuh Alexis. Pantatnya begitu padat, bulat dan berisi. Ohh…pemandangan yang indah sekali.
Aku meminta sedikit sabun gel tsb pada Alexis. Akupun mulai membantunya mengosok dan membersihkan pantat indah itu. Sesekali aku ciumi pantat itu.

Kugosok dan ku-busahi semua bagian bawah itu, dari mulai area vagina bagian depan hingga lubang anus Alexis.
Aku meyakinkan bahwa semua “lubang” yang dimiliki Alexis telah aku bersihkan. Sesekali kutekan sedikit kedua lobang tersebut dengan jari-ku sehingga menambah daya erotis sang artis. Alexis mendehem pelan. Ia pasti ia sedang merasakan sedikit sensasi pemanasan yang tak kalah nikmat.

Aku mulai naik keatas dan menyabuni payudara itu.
Payudaranya sudah mulai mengeras dan menjulang tegak kedepan.
Kuusap sekeliling payudara itu dengan penuh hikmat. Busa2 yang mengitari “buah melon” itu membuat pemandangan menjadi semakin indah.
Akupun tak sabar ingin mencicipi hidangan “buah segar”.
Hmmm…manis sekali rasanya…aromanya segarnya begitu menusuk hidung.
Alexis “mengonggong” layaknya serigala liar dengan aksi tsb. “Suck it babe…bit it…”, mohonnya padaku untuk menghisap dan mengigit melonnya.

“Engkau menungguku sayang?”, tanyaku sedikit canda pada payudara tersebut.
Aku pun melumat dan mengigit halus puting itu.

Alexis “meraung” nikmat. Tubuhnya gelojotan ke kiri dan kanan. Geli tapi nikmat.

Sekarang posisi berbalik arah.
Alexis yang jongkok dan aku berdiri.
Ia mulai menyabuni pisang ambon-ku dan buah salak juga.
Dan tak lupa anusku.

Alexis membuka mulutnya dan memakan “pisang ambon-ku”. Memagutnya layaknya sang ular memangsa tikus. Sedikit demi sedikit dan akhirnya tertelan semua. Penisku yang mulai tegang dan mengembang berhasil ia telan!

Tak lama kemudian kami membilas tubuh kami dan ia segera lari keluar dari ruang shower dan melompati keatas kasurnya.
“Come on..Jeff?”, jari telunjuknya mengacung memanggil-ku.



Aku yang masih menghanduki tubuhku sambil tersenyum melihat aksi nakal dan sedikit liar dari Alexis.

Alexis mengoyang-goyangkan bagian pinggulnya seperti merayuku untuk menikmati sajian utamanya.
Pemandangan yang sangat liar!

Aku menyusup layaknya tentara yang sedang gerilnya, mencari sesuatu diantara selangkangan indah itu.
Kutemukan sebuah bibir gua merah halus yang terasa harum sekali. Membukanya dengan kedua tanganku dan menemukan daging kecil kecoklatan dan dalam vagina itu.
Aku mulai memasuki vagina itu dengan lidahku, sedikit demi sedikit dan “kusentil” clitoris itu dengan lidahku.



Alexis refleks terangkat bokongnya akibat sentilan lidahku. “That’s right babe…!”, gumam Alexis girang.
“Suck it honey…”, mohon Alexis untuk menghisapnya.



“Hmmm…siapa yang keberatan?”, candaku membalas.
Aku pun memainkan liar lidahku dalam area vagina yang sedikit mulai basah itu dan menghisapnya. Sesekali kutarik clitoris itu keluar yg membuatnya menjerit erotis.
“OOOwwww….yesss”, komentar Alexis girang.

Alexis sudah tidak tahan. “f*ck me now…f*ck me now!”, pintanya sambil menarik tanganku.

Karena Alexis masih virgin, maka aku tidak ingin langsung menembak sasaran.
Aku segera berbaring di kasur dan menjelaskannya pada Alexis hal demikian. Silahkan kamu yang mulai dan aku akan menyambutmu.

Memang tidak mudah bagi seorang gadis melakukan hubungan intim untuk pertama kali dan melepas ke-perawanannya, dan aku membiarkannya untuk ia menentukan sendiri kapan harus “dimulai”.

Alexis tersenyum dan menurut.
“Ohhh..come on, you’re so cute..”, balasnya berterima kasih padaku.

Alexis segera mengangkangi selangkanganku dengan kaki terlipat kebelakang dan memberi penisku sedikit pelicin dengan air liurnya.

Ia meraih penis tersebut dengan tangannya dan mengarahkan pada vaginanya. Pelan dan teratur!
Aku hanya tersenyum memandanginya sambil kuusap kedua payudaranya yang telah keras dan tegak menjulang.

Pelan tapi pasti penisku mulai menyentuh bibir vaginanya dan ia berusaha menekan pantatnya sedikit demi sedikit.
Terkadang ia mengangkat kembali pantatnya, karena merasakan sedikit kurang nyaman saat kepala penisku mulai masuk dalam vaginanya.

Inchi demi inchi ia mencoba menelan penis ku. Vagina itu sudah terasa cukup bahasa akibat orgasme kecil.

Aku rasakan lobang sempit vagina itu mulai sedikit memberi ruang pada penisku untuk terus masuk. Sehingga aku sedikit membantunya dengan memberikan tekanan keatas.
Alexis hanya terpejam matanya, merasakan sesuatu yang luar biasa memasuki vagina virginya.

3 inchi penis tersebut telah masuk sukses dengan banyaknya busa putih yang menempel pada bagian kepala penisku.

Dorongan birahi Alexis yang sudah setinggi gunung memaksanya untuk menekan lebih dalam. Dengan sedikit tekanan bantuanku akhirnya 6 inchi penisku telah “tertelan” dalam vaginanya dan Alexis tersontak kaget menahan dengan dorongan penisku.

Ia segera melepas vaginanya. Dan langsung berbaring disampingku sambil memegang selangkangannya.
Sedikit air matanya turun dari wajahnya.
Aku segera berpaling dan melihat wajah itu. Mengusap air matanya sambil kuciumi kelopak mata Alexis.
Aku berusaha memberi ketenangan pada sang gadis ini.

“It’s ok..Jeff”, katanya sedikit menghibur.

Aku mengerti apa yang ia rasakan.
Ia sedikit menahan rasa sakit pada vaginanya. Dan juga mungkin membayangkan bahwa ini akhir dari masa virginnya.

“Ini akan segera berlalu…sayang”, hiburku padanya. “Dan pasti berjalan lancar”.

Aku segera bangun dan menduduki kaki Alexis.
Kulihat sedikit darah yang mengalir pada vagina itu. Aku segera membersihkan pingiran vagina tersebut dengan kain spreinya.

Alexis hanya tersenyum walaupun masih ada air mata yang mengalir pada wajahnya.

Kali ini aku mengarahkan kembali penis-ku pada vagina tersebut dan mengesampinkan kedua paha Alexis.

Paha-ku mulai mengambil posisi dibawah paha Alexis.

Begitu kepala penis itu sudah masuk, aku segera menghampiri wajah Alexis, menciumi dan melumat bibirnya.
Memasukkan lidahku dalamnya mulutnya dan melumat semua bagian dalamnya. Lidah, langit2 mulut dan gusi Alexis, kuusap dengan lidahku.

Aku berusaha untuk menaikkan kembali birahi Alexis.
Sementara itu penisku kubiarkan masuk hanya sebatas kepala penisnya saja.

Alexis mulai bereaksi dengan membalas setiap lumatan mulutku. Sangat dalam dan romantis.
Getaran jantung Alexis yang sudah mulai kencang, menandakan gadis itu sudah mulai terbakar kembali gejolak seksnya.

Tanda seperti itu ku manfaatkan untuk penetrasi penisku lebih dalam.
Turun-naik, inchi demi inchi.
Penisku mulai masuk sebagian.

Otot vagina Alexis sudah mulai sedikit “lunak” seirama dengan keluar-masuknya batang penisku.
Walaupun terkadang ia tersontak kaget, tapi ia mulai merasakan sedikit nyaman.

6 inchi penisku telah masuk kedalam vaginanya. Dan Alexis merintih nikmat.

Aku berfikir “inilah saatnya”.
3 inchi yang tersisa dan aku tuntaskan dengan segera!
Dengan diameter 1,5 inchi saat mengembang dan panjang 9 inchi tentulah tidak mudah bagi seorang perawan untuk menerimanya, tapi aku yakin rasanya Alexis sudah siap menerima penisku “secara utuh”.



Alexis mencengkram keras sprei kasurnya terhadapa 6 inchi batang penisku yang bersarang dalam vaginanya.

Ia mengeliat keras. Kepalanya mengeleng kesana kemari. Tetapi karena aku tidak melepaskan lumatan bibir kami, kekuatan gelengan Alexis sedikit tertahan.

Aku merasa ini sudah waktunya.

Dengan mengumpulkan sedikit tenaga aku mulai menekan pelan vagina Alexis tanpa putus hingga terbenam semua dan menyentuh zakarku.

Alexis langsung melepaskan lumatan ciumanku.



Ia terkejut hebat…menjerit keras..”oooohhhh….nooooo!’.

Ia berontak! Pantatnya bergerak kekiri dan kekanan seolah mengelak dengan “kedatangan” penisku.

Penisku sudah terbenam semua! TAK ADA YANG TERSISA!

Alexis terus berontak keras!…merintih…menahan rasa sakit…dan menangis…

Aku terus menekan keras pinggulnya untuk terus merapat pada Vagina Alexis. Kemanapun arah pantat Alexis bergerak, aku ikuti.

Sekuat tenaga Alexis, berusaha melepaskan penisku. TAPI…SIA SIA!.

Penisku bagaikan paku tertancap papan dengan sangat dalam!

Aku mebiarkan Alexis panik…dan aku yakin alexis akan kembali tenang.

Sementara itu kubiarkan penisku didalam vaginanya dan merasakan setiap denyut dan jepitan otot vagina itu. Aku berusaha menekannya terus agar tidak tertarik keluar.

“Jeff…take it out nowwww!”, pinta Alexis untuk mencabut penisku sementara waktu.

“I’m hurt..Jeff!”, mohon alexis dengan sangat.



Aku mengerti keadaan demikian. Alexis panik dan merasa tidak sanggup. Tapi aku yakin itu tidak akan berlangsung lama.

Aku merasakan cairan darah dalam vagina itu mengalir keluar kembali dan mengaliri buah zakarku. Cukup panas!

Kedutan dan jepitan vagina Alexis begitu keras dan sangat menjepit. Bagikan tulang yang menjepit batangan penisku.



“Jeff…please!”, pinta Alexis sekali lagi untuk mencabut penisku. Tetapi suaranya mulai merasakan terkontrol baik.

Ya..aku merasa vagina Alexis sudah menerima kedatangan penisku secara utuh.

Kulihat wajah Alexis yang sedikit meringis sambil mengigit bibirnya.
Aku melihat gadis itu sudah siap dengan aksiku berikutnya.

Aku mulai mencabut penisku secara perlahan. Alexis kembali tersontak kaget…seakan ada mata pancing di vagina dan menarik keluar.

Alexis menjerit keras kembali.
“Ohhhh…nooo…Jeff”, teriakannya sedikit kencang.

Aku tekan masuk kembali penisku.
Alexis terbelalak dengan aksi tsb.
Meraung sejadi-jadinya….



Aku mengoyang penisku sedikit kekiri dan kekanan dan menarik keluar perlahan.

Alexis mengelengkan kepalanya dengan keras kesana kemari. Tangannya tidak lagi mencengkram kain sprei, malah menarik kain sprei tersebut!

Disaat itu, Aku kembali menghujamkan penisku dengan perlahan pada vaginanya.



Alexis meraung bagai serigala…hingga kepalanya sampai berdiri.

Aku segera melumat bibirnya sambil mencabut sedikit penisku dan tak berselang lama kemudian, kuhujamkan kembali penisku dalam vaginanya. “Sleeeeppppp…”

Alexis gelojotan dan mengigit keras bibir bawahku. Sedikit sakit, tapi bisa kutahan.

Aku segera mencabut penisku dan menusuk kembali vagina tersebut dengan sedikit cepat…dan makin lama makin cepat …!



Alexis merintih dan merangkulku dengan keras.

Sekarang ia sangattttt menikmati permainan kami.

Aku semakin cepat memompa vagina Alexis, hingga payudaranya bergerak kesana kemari.

Gerakan payudara itu seirama dengan setiap hujaman penisku dalam vaginanya.
Kejal dan hilir mudik.

Alexi sudah mendekati klimaks!. Ia sedikit berteriak, “Jeff aku hampir sampai…”.

Aku semakin bersemangat. Aku berusaha mempercepat frekwensi goyanganku agar kami mencapai orgasme berbarengan.

Akhirnya ditengah derasnya “terjanganku”, ia memuntahkan semua spermanya.
“serrr….serrrrrrrrr….aliran deras spermanya menghantam penisku”
Semburan itu terasa hangat.

Aku semakin mempercepat gerakanku, dan kusemprotkan luar dalam vaginanya. croooottt…crottt..

Alexis hanya tersenyum puas. Akupun demikian. Kami berciuman kembali untuk melepaskan segala kepuasan kami. Aku segera berbaring dan ia bersandar di dadaku.
Menciumi putingku dan terima kasih atas pelayanan yang kuberikan.

Kamipun bersenda gurau, sambil kudengarkan rasa dan fantasi yang telah ia rasakan barusan.

Selanjutnya beberapa jam kemudian ia memintaku untuk melakukannya kembali.
Ya…kali ini ia akan “melakukan lebih extra” dari yang pertama ia lakukan!
Kali ini anusnya aku hujam dengan penisku dan ia sangat bergairah sekali dengan babak ini.

Hingga kami tertidur pulas sampai esok pagi.
Akupun meninggalkannya dan “keluar dari kehidupannya” dengan kenangan terindah dalam dirinya dan juga untukku.

Seandainya ia sudi menjadi milikku…. mungkin aku akan berhenti dari pekerjaan ini…mungkin….

Sumber : http://www.hamsterhead.info/2012/03/cerita-dewasa-pecahnya-perawan-artis.html#ixzz1wKz4cRI9

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment