Being a Happy Single Dalam Balutan Emansipasi

Bookmark and Share

Menikah atau tidak menikah? Apakah perempuan boleh memilih untuk tidak menikah? Jika perempuan sudah mandiri dengan hidupnya dan mengejar apa yang dia mau, rasanya tidak berlaku lagi tradisi lama yang selalu menempatkan perempuan pada posisi untuk menggantungkan nasib dan hidupnya di pundak seorang pria. Jika Anda aktif mengikuti perkembangan kehidupan perempuan Indonesia yang telah memasuki usia 20 hingga 35 tahun, maka Anda tentu tak asing lagi dengan isu tentang pernikahan. Isu ini sedang hangat menjalar di kepala para perempuan muda, sehingga pertanyaan "Kapan kamu menikah?" menjadi pertanyaan paling basi sekaligus menyebalkan di planet ini. Apakah benar perempuan muda mulai malas untuk membangun sebuah komitmen dalam ikatan pernikahan? Apakah emansipasi menjadi penyebabnya?

" Kalau saya bisa mewujudkan semua impian dan kebahagiaan saya, rasanya pernikahan tak lagi penting untuk dikejar."

Happily ever after, kalimat itu selalu muncul saat sang putri menikah dengan sang pangeran. "Kalau sudah besar, aku akan menikah dan bahagia selama-lamanya," adalah impian para gadis kecil kala itu, tetapi seiring dengan perkembangan zaman, di mana para perempuan semakin bebas menyuarakan pemikirannya, mewujudkan impiannya, mengejar kesuksesan dan lain sebagainya, maka timbul kesadaran bahwa happily ever afterternyata tak hanya bisa didapat dari sebuah pernikahan. Pendidikan dan pencapaian karir adalah dua hal yang selalu dikejar para wanita muda, ditambah lagi dengan jadwal keliling dunia.. pada akhirnya pernikahan ada di urutan entah keberapa. Ah.. seandainya R. A. Kartini masih hadir di antara kita, seperti apa pendapatnya melihat fenomena ini?

Menikah? Nanti Dulu Deh..
Mari kita dengar beberapa pendapat sahabat lajang kami mengenai pernikahan:

"Menikah? Nanti dulu deh.." ujar sahabat kami Sarah yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan asing sebagai Financial Analyst. Alasan perempuan ini untuk tidak menikah terlebih dahulu adalah keinginannya untuk mencapai jenjang S3. "Ini adalah cita-cita saya, yang saya bangun bertahun-tahun lalu, saya juga sudah bekerja keras untuk mewujudkannya, sekarang tinggal berangkat. Kalau saya memikirkan pernikahan, repot banget harus ngurus ini itu. Lagipula standart pekerjaan semakin tinggi, saya tidak mau kalau cita-cita yang hanya tinggal sebatas impian jika harus mengurus rumah tangga."

Sedangkan sahabat kami yang lain menuturkan, "Dulu saya pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, dia baik, mapan, dan kami saling jatuh cinta," ujar sahabat kami bernama Rahma yang kini berusia 28 tahun. "Tapi, saya memutuskan hubungan kami karena dia tidak mendukung keinginan saya untuk mengambil gelarbachelor's degree. Dia terus mendesak saya agar kami segera menikah. Dan menurutnya, saya tidak perlu repot memiliki pendidikan tinggi dan bekerja, karena dia ingin saya menjadi ibu rumah tangga saja di rumah," lanjutnya. "Well.. saya tidak sepemikiran, waktu itu saya masih 24 tahun dan masih banyak cita-cita yang ingin saya wujudkan. Dan yeah, sekarang saya sudah mengantongi gelar bachelor's degree,plus punya karir yang oke. Masalah pernikahan? Saya belum memikirkannya. Kalau saya bisa mewujudkan semua impian dan kebahagiaan saya, rasanya pernikahan tak lagi penting untuk dikejar."

Perubahan Pola Pikir

Apa yang sebenarnya terjadi dalam pola pikir para perempuan muda? Sebagai gambaran, hal ini tak hanya terjadi di Indonesia. Jika dua puluh tahun lalu usia pernikahan perempuan adalah 18 - 20 tahun, maka di tahun 2012, makin banyak perempuan yang menjadi a happy single di usia 25 - 35 tahun, dan mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Stigma masyarakat yang menyebutkan 'perawan tua' pada para single di usia matang seolah tak menjadi sesuatu yang penting. "Saya tidak peduli dengan anggapan orang lain, kalau saya bisa berprestasi dan bahagia, rasanya saya tidak perlu repot menanggapi label negatif tersebut," kira-kira begitulah tanggapan yang diberikan para happy singletersebut.

Alergi dengan konsep pernikahan tampaknya menjadi wabah baru. Konsep pernikahan yang ada di Indonesia masih menempatkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga. Mereka dituntut untuk bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, mulai dari merawat anak, memasak, menjaga kesehatan, mengatur keuangan dan lain sebagainya. Konsep tersebut juga masih berlaku sekalipun sang perempuan meniti karir di luar rumah. Belum lagi dari sisi pria yang masih beranggapan bahwa pasangannya tidak boleh lebih 'tinggi' dari dirinya, baik dari segi pendidikan, karir dan penghasilan. Hal inilah yang membuat para perempuan muda seolah hanya punya dua pilihan: tetap single tetapi mencapai semua impian dan passion, atau menikah dengan risiko mengubur banyak hal yang kecil kemungkinan untuk diwujudkan setelah menikah.

R. A Kartini Juga Mengalaminya


Jika kita berjalan mundur ke belakang, R. A. Kartini pernah mengalami hal yang sama. Buka kembali buku sejarah Anda, maka Anda akan menemukan sebuah benang merah di dalamnya. R. A. Kartini tak sungkan mendobrak tradisi kehidupan wanita di masa itu yang hanya sebatas tembok rumah. Passion untuk melanjutkan sekolah di Belanda atau melanjutkan sekolah Kedokteran pernah menjadi keinginan beliau, termasuk mengangkat kesetaraan pendidikan dan hukum bagi para perempuan di masa itu. Kita tentu berterima kasih atas perjuangan beliau, dan pemikiran R. A Kartini yang.. wow.. passionyang begitu besar, sama seperti perempuan masa kini.

Tetapi tahukah Anda apa yang terjadi selanjutnya? R. A. Kartini pada akhirnya menikah dan mengubur semua cita-citanya. Hal itu ada dalam surat beliau yang dikirimkan pada Nyonya Abendanon, "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan (pendidikan) itu lagi, karena saya sudah akan menikah..."

Hhmm...

Kami tidak tahu apa yang menjadi alasan R. A. Kartini mau mengubur cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan. Tetapi sejarah menuliskan bahwa menjelang keputusan pernikahannya, beliau lebih bisa melunturkan ego dan tak keberatan mengikuti konsep patriarki yang selalu dia tentang. Ada perubahan pola pikir di sini, yang sebenarnya bisa dialami oleh para perempuan di seluruh dunia, termasuk Anda.

Jadi.. Sebaiknya Menikah Atau Tidak?

Kami tidak ingin menjadikan artikel ini sebagai pembenaran bahwa Anda boleh untuk tidak menikah atau Anda harus menikah. Karena pada akhirnya, pernikahan adalah pilihan Anda, memerlukan kesiapan yang sangat matang dan Andalah yang bisa menentukan kapan waktunya. Jika saat ini Anda masih menikmati kebebasan dan meraih semua passion yang ada di hati, nikmati hal itu selama Anda bahagia melakukannya. Tetapi bila Anda menemukan satu titik saat Anda sudah siap untuk berbagi semua hal dengan orang lain, dan orang tersebut adalah orang yang Anda percaya untuk dapat saling berbagi dalam suka dan duka.. go on..put a wedding ring on your finger. It's all about your choices, Ladies


sumber

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment